Politik Aliran Masih Kuat dalam Pilpres Mendatang

Politik Aliran Masih Kuat dalam Pilpres Mendatang

- detikNews
Rabu, 19 Mei 2004 00:24 WIB
Yogyakarta - Digaetnya dua tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Hasyim Muzadi dan Sholahudin Wahid oleh dua parpol besar pemenang pemilu yakni PDIP dan Partai Golkar menunjukkan politik aliran masih kuat. Pinangan juga menunjukkan kurang percaya diri parpol menghadapi pemilihan presiden (5/7/2004) mendatang sehingga harus ada tambahan identitas lain. "Digandengnya Hasyim Muzadi oleh Megawati jelas suatu upaya dari PDIP untuk menggunakan identitas NU dan merebut sebagian suara dari warga NU. Demikian juga saat Wiranto menggandeng Sholahuddin Wahid juga upaya Golkar untuk menarik suara dari NU dan PKB," kata Lambang Triyono Ketua Pusat Studi Keamanan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakartademinar "Pemilihan Presiden dan Demokrasi di Indonesia" di Pusat Antar Universitas (PAU) UGM Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (18/5/2004).Menurut Lambang, masih kuatnya politik aliran saat ini terutama menjelang pilpres nanti, memungkinkan timbulnya kerawanan karena politik sektarian justruakan semakin meningkat terutama di kawasan Indonesia bagian Timur dan daerah lainnya. Dengan komposisi capres/cawapres seperti saaini akhirnya akan munculpertarungan politik untuk memperebutkan identitas politik, perilaku dan politik masyarakat. "Pertarungan di tingkat elit semakin jelas untuk menjatuhkan satu sama lain. Tapi yang disayangkan, para elit itu justru bukan memperkuat identitaspartainya, melainkan mencari tambahan identitas lain dengan berselingkuh ke rumah tangga orang lain," kata Lambang yang juga staf pengajar Fisipol UGM itu. Menurut Lambang antara Megawati dan Wiranto akan bertarung dalam arena yang sama yaitu arena identitas Islam tradisional atau NU. Bila itu terjadi bisadiprediksi, ketegangan politik pasti akan terjadi di tubuh NU/PKB. "Ibaratnya NU dan PKB itu akan diinjak-injak oleh dua gajah yang bertarung. SementaraGolkar dan PDIP sendiri justru aman-aman saja dan menikmati pertarungan tersebut," ujarnya.Sementara itu pasangan Amien Rais dan Siswono Yudo Husodo juga melakukan hal yang sama dengan menambah identitas politiknya. Amien Rais yang sudah mempunyaiidentitas Islam-Muhammadiyah berusaha menambah identitas lain dari kaum nasionalis-populis yang dimiliki Siswono karena berasal dari GMNI. "Dalamkondisi ini, potensi yang dimiliki Siswono bisa untuk mengurangi kelompok nasionlis yang dimiliki Megawati atau PDIP," katanya. Sedangkan yang tidak peduli dengan politik identitas kultural hanya pasangan Susilo Bambang Yudoyono-Yusuf Kalla. Identitas diri mereka dibangun atas dasaridentifikasi pemimpin profesional - teknokratis. "Meski demikian komposisi SBY-Yusuf Kalla tetap berpotensi akan bersinggungan dengan identifikasimiliter-birokratis yang munculnya Wiranto sebagai capres Golkar," imbuhnya. (jon/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini