"Sejak 1998, Indonesia menata kembali. Indonesia menjadi contoh baik bagi negara lainnya dalam demokratisasi," ujar Ketua Delegasi Eropa untuk Hubungan Negara-negara Asia tenggara dan ASEAN, Dr Werner Langen, saat ditemui di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (22/2/2011). Langen berkunjung ke Indonesia bersama 9 anggota delegasi lainnya.
Langen menambahkan, Parlemen Eropa ingin menambah wawasan mengenai kesuksesan Indonesia yang bertransformasi dari negara otokratis menjadi negara demokratis dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Karena itu, Parlemen Eropa berharap selama 5 hari kunjungan bisa mendapatkan dialog yang bermanfaat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, 10 anggota Parlemen Eropa juga akan mengunjungi Yogyakarta untuk memantau kerjasama antara UE dan Indonesia, terkait proyek-proyek bantuan kemanusiaan dan pembangunan. Termasuk pula meninjau rekonstruksi di Yogyakarta yang pernah dilanda gempa bumi pada 2006 lalu.
Pada 20 Oktober 2006 silam, UE telah memberi bantuan sekitar Rp 950 miliar untuk rekonstruksi, rehabilitasi dan pemulihan mata pencarian masyarakat yang menjadi korban gempa bumi di Yogyakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Langen menegaskan, EU dapat menjadi mitra yang bisa diandalkan ketika terjadi bencana alam seperti letusan Gunung Merapi maupun bencana tsunami di Mentawai.
"Kami dan Indonesia juga ada kerjasama lainnya seperti perjanjian perdagangan bebas, dan juga ada bantuan pendidikan, karena pendidikan merupakan prioritas," ucap pria asal Jerman ini.
(vit/fay)










































