"Sifat hubungan multidimensional kami dapat diterjemahkan ke dalam 3D, democracy, diversity dan development. Kami akan bertemu dengan para menteri dan perwakilan LSM untuk membahas perdagangan yang verkembang antara UE dan Indonesia," ujar Ketua Delegasi Eropa untuk Hubungan Negara-negara Asia tenggara dan ASEAN, Dr Werner Langen, saat ditemui di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (22/2/2011).
Dijelaskannya, nilai perdagangan yang berkembang antara UE dan Indonesia mencapai 19 miliar Euro atau Rp 228 triliun. Dia menambahkan, EU merupakan mitra Indonesia yang memiliki komitmen di berbgai bidang penting seperti pendidikan dasar, tata kelola pemerintahan, kesehatan dan juga bantuan teknis di bidang perdagangan.
"Saya berharap untuk mendapatkan masukan langsung mengenai dinamika dan keberagaman hubungan antara UE dan Indonesia untuk memastikan bahwa parlemen Eropa berkontribusi sepenuhnya agar hubungan 3D ini berkembang dan tumbuh di masa mendatang," harap pria asal Jerman ini.
Langen menjelaskan, Parlemen Eropa memilih Indonesia sebagai negara tujuan kunjungan lantaran Indonesia merupakan negara demokratis terbesar ketiga di dunia dan juga negara dengan penduduk Muslim terbesar. Karena itu Parlemen Eropa berharap selama 5 hari kunjungan bisa mendapatkan dialog yang bermanfaat.
"Apalagi Indonesia menjadi Ketua ASEAN, di mana ASEAN menjadi kekuatan sebagai entitas regional," imbuhnya.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Kerajaan Belgia merangkap Keharyapatihan Luksemburg dan Uni Eropa, Arif Oegroseno, mengatakan, kunjungan Perlemen Eropa ke Indonesia memiliki arti penting. Sebab Parlemen Eropa bukanlah rubber stamp namun berperan penting dalam legislasi. Kunjungan ini menunjukkan sinyal hubungan keduanya yang baik.
"Kita punya value yang sama, seperti penghormatan terhadap demokrasi, pluralisme, market ekonomi dan kebebasan pers," ucap Arif di kesempatan yang sama.
Diimbuhkannya, UE juga telah menandatangani MoU yang berisi pemberian bantuan kepada Indonesia di bidang pendidikan sebanyak 144 juta Euro atau sekitar Rp 166 triliun. Bantuan ini untuk tahun 2011 hingga 2013.
"Bantuan ini juga menunjukkan komitmen UE di bidang pendidikan," kata Arif.
(vit/asy)











































