"Besok kami akan berdialog dengan kalangan masyarakat sipil, dengan tokoh-tokoh lintas agama," ujar Ketua Delegasi Eropa untuk Hubungan Negara-negara Asia tenggara dan ASEAN, Dr Werner Langen, saat ditemui di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (22/2/2011). Langen datang ke Indonesia bersama 9 anggota delegasi lainnya.
Disampaikan dia, Parlemen Eropa ingin mengetahui apa saja masalah lintas agama di Indonesia. Mereka ingin belajar dari Indonesia bagaimana cara Indonesia mengatasi masalah-masalah lintas agama tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Ketua Delegasi Eropa, Robert Goebbels, menambahkan, Uni Eropa (UE) hanya akan mendengarkan pemaparan tokoh-tokoh lintas agama di Indonesia. "Kami hanya ingin mendengar bukan memberi kuliah. Kami ingin belajar dengan mendengar semua," kata pria berjenggot dan berkacamata ini.
Menurut Goebbels, pertemuan akan berlangsung tertutup. Terkait kekerasan atas nama agama, dikatakan dia, sudah ditegaskan di semua kitab suci bahwa memeluk agama dan keyakinan adalah hak asasi setiap orang.
"Dalam konstitusi Indonesia dikatakan percaya kepada satu Tuhan, dan saya lihat ini di sini. Terkadang memang ada pertentangan terkait interpretasi kitab suci, tapi banyak orang yang tidak setuju terhadap kekerasan," tuturnya.
Terkait kasus kekerasan di Cikeusik, Pandeglang, Banten, parlemen UE menyampaikan bahwa hal itu adalah masalah internal Indonesia. Karenanya parlemen UE tidak akan terlibat dalam penyelesaian masalah itu. Apalagi UE memang tidak terlalu banyak tahu tentang peristiwa tersebut. Ditegaskan Goebbels, kebebasan beragama adalah hak setiap orang.
Sementara itu Langen menambahkan, kekerasan yang terjadi di Indonesia bukanlah benturan peradaban melainkan konflik internal antar agama. "Kami menanti ada perkembangan yang baik sebagai akhir masalah ini," ucap Langen.
Bentrokan antara warga dengan jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten terjadi pada Minggu (6/2). Tiga orang anggota Ahmadiyah tewas dan 5 orang lainnya luka-luka. Polri sendiri telah menetapkan sembilan tersaangka yakni AD, D, UJ, KE, KM, KMH alias M, S, YA alias I dan KHU. Untuk menyelidiki kasus ini, Komnas HAM telah membuat tim khusus.
UE melihat ada kesamaan dengan Indonesia di mana sama-sama memiliki keberagaman. UE memiliki 27 negara anggota sedangkan Indonesia memiliki 33 provensi. UE mempunyai 23 bahasa resmi sedangkan Indonesia memiliki sekitar 700 bahasa yang digunakan di berbagai daerah. Karena itu UE ingin belajar banyak dari Indonesia.
(vit/nrl)











































