Penjualan Jet Korsel ke RI Terancam Akibat Insiden Laptop

Penjualan Jet Korsel ke RI Terancam Akibat Insiden Laptop

- detikNews
Selasa, 22 Feb 2011 12:15 WIB
Seoul - Para pejabat pemerintah Korea Selatan di Seoul kelimpungan terkait insiden pencurian laptop delegasi Indonesia yang diduga dilakukan intelijen Negeri Ginseng itu. Rencana penjualan jet latih T-50 terancam batal.

Media-media Korsel menuding badan intelijen Korsel, National Intelligence Service (NIS), berada di balik penyusupan ke kamar anggota delegasi Indonesia di Hotel Lotte. Pemerintah Korsel tentu membantahnya.

Namun, seperti dilansir media Joong Ang Daily, Selasa (22/2/2011), seorang sumber dari militer Korsel mengatakan rencana penjualan T-50 itu sangat penting untuk pemerintah Korsel. Sebab Presiden Korsel Lee Myung-Bak sangat menggadang-gadang program pesawat jet latih dan generator nuklir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika generator nuklir sudah laku dijual ke Uni Emirat Arab, tidak demikian dengan pesawat T-50 Golden Eagle. Korsel mencoba menjual T-50 ke Uni Emirat Arab dan Singapura, namun tidak laku. Indonesia adalah calon pembeli ketiga.

"Kami pikir deal untuk ekspor T-50 ke Indonesia nyaris sukses kali ini. Saya pikir orang-orang NIS juga berada di bawah tekanan," ujarnya.

Seorang pejabat pemerintah Korsel juga mengakui, pihaknya kebingungan lantaran proyek T-50 seret langkahnya. Kemlu, Kemhan dan badan intelijen Korsel sangat disorot jika program ini gagal.

"Karena Presiden Lee sangat berkepentingan dalam proyek ini. Tekanan terhadap jajarannya menjadi berat," ujar dia.

Lee sangat mempromosikan pesawat jet latih ini. Saat berkunjung ke Indonesia, Desember 2010 lalu, dia bertemu dengan Presiden SBY dan setuju meningkatkan kerja sama pertahanan dan membuka jalan untuk ekspor T-50.

Bahkan, ketika delegasi Indonesia yang dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa datang ke Seoul, Lee memberikan perhatian khusus. Lee disebut menyediakan pesawat dan helikopter untuk membantu akomodasi delegasi.

Kunjungan delegasi Indonesia adalah sinyal positif untuk penjualan T-50, sampai akhirnya terjadi insiden laptop. Para pejabat Seoul kini kelimpungan dengan situasi yang terjadi sekarang.

"Kamar yang dimasuki adalah milik pejabat Indonesia tingkat teknis yang mungkin tidak membawa informasi pertahanan yang rahasia. NIS membuat proyek yang awalnya berjalan baik, menjadi keluar jalur, akibat tindakan yang tidak perlu," kata seorang pejabat senior Seoul lainnya.

Para pejabat Seoul dan Jakarta berusaha menenangkan kisruh ini secara diplomatik. Mantan pejabat tinggi NIS mengatakan badan intelijen Korsel dan Indonesia sudah lama bekerja sama, oleh karena itu dia optimis masalah laptop ini bisa selesai dengan baik.

"Masalah ini sepertinya bisa diselesaikan setelah NIS memberikan pemahaman kepada Jakarta dan Jakarta menerimanya," tutupnya.

(fay/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini