Tuding Pejabat, Cuma Permainan Wiranto Cari Simpati Massa

Tuding Pejabat, Cuma Permainan Wiranto Cari Simpati Massa

- detikNews
Selasa, 18 Mei 2004 18:31 WIB
Jakarta - Langkah Wiranto menuding seorang pejabat ingin mengganjal langkahnya di Pemilu Presiden hanya merupakan permainan untuk menarik simpati massa. Wiranto tak mau menyebut nama karena ia belum mempunyai bukti kuat.Demikian pendapat pengamat politik Bachtiar Effendi saat berbincang dengan detikcom pertelepon, Selasa (17/5/2004). Setelah Gus Dur, siang tadi, Wiranto menuding salah seorang pejabat negara ingin menjegal pencapresannya.Sama seperti Gus Dur tak ada nama yang disebut. Capres Golkar itu hanya memberi isyarat pejabat itu mengadakan rapat di rumahnya untuk menggerakkan aksi mahasiswa."Tak usah ditanggapi serius. Paling isu itu dalam satu sampai dua hari ini juga hilang. Itu hanya permainan khas politisi Indonesia dalam suasana kampanye. Mereka akan menggunakan cara-cara yang bisa menimbulkan simpati masyarakat, syukur bisa menambah dukungan," kata Bachtiar. Bachtiar menduga Wiranto ataupun Gus Dur tak mau menyebut pejabat yang dimaksudnya karena mempertimbangkan konsekuensi hukum. Hal itu dilakukan karena keduanya masih ragu atau belum mempunyai cukup bukti. "Saya kira bukan karena takut. Saya kira karena dia ragu apa berita itu betul atau tidak. Mungkin juga ia tak punya bukti. Kalau menyebut nama kan jadi persoalan hukum. Ia bisa dituntut telah melakukan fitnah," kata Bachtiar.Wiranto mengalami dilema, di satu sisi merasa ada pihak yang ingin menjelekkan namanya. Tapi ia tak punya bukti. "Kalau anda menjadi dia masa disimpan saja. Kan bisa sesak. Makanya diungkapkan tapi tak mau menyebut nama," ujarnya.Untungkan PemilihLangkah Wiranto dan Gus Dur justru menguntungkan pemilih. Pemilih bisa mengetahui karakter sesungguhnya capres yang akan dipilihnya. Hal ini setidaknya akan membantu swing voter, pemilih yang belum menentukan pilihan untuk mengambil keputusan. "Biarkan saja para tokoh mengeluarkan pernyataan. Ini akan menunjukkan inilah mereka. Ada pemimpin yang suka mengeluarkan pernyataan yang abstrak dan cenderung tendensius menjurus fitnah. Apa kita rela dipimpin politisi seperti itu?" katanya. (iy/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads