"Sejak tahun 1933, Majelis Tarkih Muhamadiyyah sudah mengeluarkan putusan bahwa sesuai akidah Islam, Muhammadiyah menolak ada pemahaman dan ajaran lain yang meyakini nabi baru selain nabi Muhammad. Apapun dan siapa pun yang melakukan," ujar Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin.
Hal itu dia sampaikan dalam diskusi publik bertajuk "Masalah Kerukunan Umat Beragama dan Solusinya" di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Senin (21/2/2011).
Sikap Muhammadiyah ini, lanjut Din, lebih awal keluar dibandingkan MUI. Sikap ini juga lebih tegas menanggapi lahirnya ajaran yang menyesatkan seperti Ahmadiyah.
"Ini dikeluarkan lebih awal dan lebih keras dibanding fatwa Rabithoh Islamiyah pada tahun 1979 dan fatwa MUI yang dikeluarkan 1980 terkait keberadaan ajaran Ahmadiyah," jelasnya.
Meski memiliki sikap tegas terhadap aliran yang menyimpang seperti itu, Muhammadiyah cukup dewasa menyikapi desakan pembubaran Ahmadiyah. Dari pada ikut serta dalam berbagai aksi yang tidak jelas kesudahannya, Muhammadiyah lebih memilih sikap netral.
"Muhammadiyah tidak mau ikut gerakan untuk membubarkan Ahmadiyah. Karena eksistensi suatu kelompok seperti Ahmadiyah itu bukan urusan masyarakat, tapi negara dan Pemerintah, kami menyerahkan kepada negara," beber Din.
Din menambahkan, sebagai warga yang baik hendaknya memberikan solusi bukan menambah keruh suasana. Ada baiknya ajaran sesat seperti itu dituntun ke jalan yang benar.
"Silahkan pemerintah ambil tindakan tegas sesuai hukum berlaku. Penyelesaian masalah ini jangan diberikan kepada masyarakat. Dan marilah kembali ke kaedah islam yang standar," katanya.
Kepada umat Islam lainnya, Din menyerukan agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran yang kiblatnya tidak jelas. Dengan sikap Muhammadiyah yang menolak keberadaan Ahmadiyah namun tidak mengandalkan aksi kekerasan, diharapkan bisa menjadi media dakwah.
"Bagi Muhamadiyah, ini (putusan) sebagai alat dakwah. Dengan putusan ini, lebih baik kita sosialisasikan kepada umat agar jangan terpengaruh dengan akidah yang meyakini nabi baru. Jika dakwah mendalam ke seluruh umat, keyakinan (yang menyimpang) itu tidak akan ada, dan tidak banyak umat Islam yang ikut," tandas Din.
(lia/irw)











































