"Nggak lazim menyimpan (data) di laptop, kita ada pola sendiri, cara sendiri, tidak seperti itu," kata Sjafrie saat ditemui di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (21/2/2011).
Namun Sjafrie tidak mengatakan lebih jelas bagaimana sebuah data yang bersifat rahasia disimpan. Sjafrie hanya kembali memastikan tidak ada satu pun data militer yang jatuh ke tangan pencuri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini bermula saat 50 delegasi utusan Presiden SBY yang dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa tiba di Seoul pekan lalu untuk kunjungan 3 hari. Mereka juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dan berdiskusi tentang perluasan kerjasama ekonomi dan militer bilateral, termasuk rencana Korea Selatan untuk menjual T-50 Golden Eagle, pesawat pelatih jet supersonik.
Di sela-sela acara itulah, pencurian itu terjadi. Delegasi pulang ke Jakarta pada hari Kamis (17/2). Koran Korsel, Chosun Ilbo, menyatakan, belum dikonfirmasi apakah pemerintah Indonesia telah mengajukan keluhan diplomatik atas pembobolan data itu, tapi Jakarta telah mengetahui keterlibatan NIS (Badan Intelijen Korsel) sekarang.
Sementara itu, di Jakarta isu pencurian data militer itu ditanggapi santai. Tidak ada satu pun pejabat yang menyebut data yang dicuri adalah penting. Delegasi tidak membawa data penting saat berkunjung ke Seoul. "Tidak ada rahasia militer Indonesia yang dibawa-bawa ke Korea," ujar Menko Polhukam Djoko Suyanto. Sedangkan Kemlu RI menanggapi kasus itu dengan melaporkan pencurian laptop pada polisi.
Namun, para politisi di DPR memiliki info lain. Mereka meyakini bahwa ada data penting yang dicuri dari laptop salah seorang delegasi. Data itu adalah data tentang pengadaan pesawat tempur kerjasama PT DI dan Korsel. Pesawat Korea Fighter Experiment itu di atas F16 dan di bawah F35.
(ken/nrl)











































