Dalam pidatonya di stasiun televisi pemerintah, Saif menuding ekspatriat Arab dan Afrika mendalangi kerusuhan di Libya. Menurut putra bungsu Khadafi tersebut, pergolakan itu dimaksudkan untuk membentuk kepemimpinan Islam. Saif juga menjanjikan konstitusi baru dan undang-undang liberal yang baru.
Saif juga menyalahkan media asing yang menurutnya telah membesar-besarkan jumlah korban tewas selama demonstrasi di Libya. Namun Saif tidak menyebutkan data resmi pemerintah Libya mengenai jumlah korban tewas.
Dalam pidatonya, Saif juga mengingatkan setiap pemberontakan akan dihadapi tanpa ampun. "Libya bukan Mesir, Libya bukan Tunisia. Tak ada partai-partai politik di Libya," ujar Saif. "Kami akan mengangkat senjata... kami akan bertempur hingga peluru terakhir," tegas Saif.
"Kami akan menghancurkan elemen-elemen yang menghasut," tandasnya. "Jika semua orang bersenjata, ini perang saudara. Kami akan saling membunuh satu sama lain," ujar Saif.
Menurut Saif, ayahnya didukung oleh militer Libya. "Kami akan bertempur hingga menit terakhir, hingga peluru terakhir," cetusnya.
Situasi di Libya saat ini semakin tak terkendali. Dikatakan Saif, para demonstran telah menguasai sejumlah pangkalan militer, senjata dan tank-tank tempur. Saif pun mengingatkan, perang saudara di negeri itu akan menghancurkan kekayaan minyak Libya.
(ita/nrl)











































