"Selain dugaan mafia senjata ada kemungkinan intelijen negara-negara tetangga seperti Australia, Singapura, Malaysia selama ini kritis terhadap Indonesia bila akan kembangkan industri pertahanan dan alutsista," ujar anggota Komisi I DPR Teguh Juwarno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/2/2011).
Menurut Teguh, pihaknya juga telah menerima informasi hilangnya data militer dari Kemenhan. Data yang hilang berupa kerjasama pembuatan pesawat militer Indonesia dengan Korsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembobolan itu terjadi pada Rabu (16/2) lalu, atau sehari sebelum rombongan delegasi Indonesia yang berada di Korea sejak 15-17 Februari, meninggalkan Indonesia. Pemerintah Indonesia lewat Menko Polhukam Djoko Suyanto telah memastikan rombongan tersebut tidak membawa data penting selama berdinas di sana.
Hadir dalam delegasi Indonesia lima menteri termasuk Menhan Purnomo Yusgiantoro. Mereka membahas rencana Korea untuk menjual T-50 Golden Eagle, jet supersonik pelatih ke Indonesia.
Koran Korsel, Chosun Ilbo, menyatakan, belum dikonfirmasi apakah pemerintah Indonesia telah mengajukan keluhan diplomatik atas pembobolan data itu, tapi Jakarta telah mengetahui keterlibatan NIS (Badan Intelijen Korsel) sekarang.
Sementara itu, di Jakarta isu pencurian data militer itu ditanggapi santai. Tidak ada pejabat satu pun yang menyebut data yang dicuri adalah penting. Karena itu, DPR berniat untuk memanggil Menhan.
(nik/nvt)










































