Ada Kemungkinan Intelijen Negara Tetangga RI Terlibat Pencurian Data di Seoul

Updated

Ada Kemungkinan Intelijen Negara Tetangga RI Terlibat Pencurian Data di Seoul

- detikNews
Senin, 21 Feb 2011 11:12 WIB
Ada Kemungkinan Intelijen Negara Tetangga RI Terlibat Pencurian Data di Seoul
Jakarta - Pencurian data militer Indonesia di Seoul belum diketahui pelakunya. Meski begitu, ada kemungkinan keterlibatan negara-negara tetangga yang selama ini kritis terhadap kebijakan militer Tanah Air.

"Selain dugaan mafia senjata ada kemungkinan intelijen negara-negara tetangga seperti Australia, Singapura, Malaysia selama ini kritis terhadap Indonesia bila akan kembangkan industri pertahanan dan alutsista," ujar anggota Komisi I DPR Teguh Juwarno di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (21/2/2011).

Menurut Teguh, pihaknya juga telah menerima informasi hilangnya data militer dari Kemenhan. Data yang hilang berupa kerjasama pembuatan pesawat militer Indonesia dengan Korsel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini, lanjut Teguh, pihaknya sedang menyelidiki motivasi pencurian data tersebut. "Kita sedang menyelidiki berbagai kemungkinan motivasi pencurian data  tersebut atau urgensi pencurian data tersebut," kata politisi PAN ini.

Pembobolan itu terjadi pada Rabu (16/2) lalu, atau sehari sebelum rombongan delegasi Indonesia yang berada di Korea sejak 15-17 Februari, meninggalkan Indonesia. Pemerintah Indonesia lewat Menko Polhukam Djoko Suyanto telah memastikan rombongan tersebut tidak membawa data penting selama berdinas di sana.

Hadir dalam delegasi Indonesia lima menteri termasuk Menhan Purnomo Yusgiantoro. Mereka membahas rencana Korea untuk menjual T-50 Golden Eagle, jet supersonik pelatih ke Indonesia.

Koran Korsel, Chosun Ilbo, menyatakan, belum dikonfirmasi apakah pemerintah Indonesia telah mengajukan keluhan diplomatik atas pembobolan data itu, tapi Jakarta telah mengetahui keterlibatan NIS (Badan Intelijen Korsel) sekarang.

Sementara itu, di Jakarta isu pencurian data militer itu ditanggapi santai. Tidak ada pejabat satu pun yang menyebut data yang dicuri adalah penting. Karena itu, DPR berniat untuk memanggil Menhan.
(nik/nvt)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini