Kritik Mega Atas Pendidikan Agama Bukan Evaluasi Objektif
Selasa, 18 Mei 2004 13:01 WIB
Jakarta - Pernyataan Presiden Megawati mengenai pendidikan agama telah melahirkan fanatisme dan militansi bukan merupakan evaluasi objektif yang mencerminkan kegagalan pendidikan agama."Meskipun Presiden yang bicara, untuk tingkat mewaspadai masih bisa menerima. Tapi untuk dianggap evaluasi objektif dari semua pendidikan agama, saya kita itu tidak tak mencerminkan. Itu hanya sebuah tanggapan saja," kata pengamat pendidikan Arif Rachman saat berbincang dengan detikcom, Selasa (17/5/2004).Arif tak menampik kemungkinan telah terjadi kesalahan dalam pendidikan agama sehingga menimbulkan fanatisme yang negatif. Namun kesalahan itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil pendidik agama. "Kalau masih ada pengajar, kiai, pastur atau orang di Wihara yang menumbuhkan ketidakmampuan lintas agama untuk hidup secara harmonis, itu tak mustahil terjadi. Tapi saya anggap secara menyeluruh tak demikian," kata Arif. Kritik Mega itu, menurut Arif, cukuplah dijadikan masukan untuk memperbaiki kelemahan pendidikan. Pendidikan selama ini terlalu menekankan keunggulan kognitif bukan keunggulan watak. Selain itu, juga antara teori dengan praktek sering tak seimbang. "Yang dievaluasi terlalu banyak kognitif. Jadi belum pada sikap. Padahal dalam pendidikan agama, sikap merupakan hal yang perlu dikembangkan. Di sinilah perlu diajarkan kemampuan hidup bersama di tengah perbedaan," demikian Arif.
(iy/)











































