"Indikasi adanya preman memang ada tapi kami belum tahu persis apakah mereka preman bayaran atau memang petugas keamanan. Yang jelas kami tidak kenal mereka karena muka mereka asing," ujar Seno Budiarto selaku perwakilan dari warga kepada detikcom, di Rawasari, Minggu (20/2/2011).
Seno bercerita 2 hari yang lalu ketika warga sedang berorasi dan beberapa warga mencabut umbul-umbul milik pengembang, sekitar 100 pria tak dikenal berteriak-teriak dari dalam lokasi apartemen. Mereka mengenakan baju biasa dan berteriak-teriak 'Hey pada ngapain itu?'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pria berjaket kulit ini pun menepis rumor bahwa warganya telah menyiapkan bambu runcing untuk perlawanan jika ada hal yang mengancam keselamatan mereka. "Bambu memang ada tapi itu untuk bikin api unggun. Kami di sini melakukan aksi damai. Tapi bila harus terpaksa menggunakan kekerasan itu adalah pilihan terakhir bagi kami," imbuhnya.
Seno mengaku selama ia dan puluhan warga melakukan aksi di depan gerbang apartemen, pihak pengembang sengaja mematikan lampu sehingga kondisi di tenda gelap gulita. Oleh karenanya mereka menyiapkan beberapa bilah bambu untuk membuat api unggun.
Salah seorang warga bernama Siti Khobsyah pun mengaku ada beberapa pria yang ia duga sebagai preman bayaran. Meski begitu ibu beranak 3 ini mengaku tidak takut bahkan dengan polisi sekalipun.
"Saya tidak takut, mau preman kek, mau polisi kek, Satpol PP kek. Saya tidak takut. Ngapain takut?," kata Siti.
Siti juga sempat bercerita setiap kali warga berorasi, ada sekitar 20 aparat polisi dan Satpol PP berkumpul di depan gerbang apartemen. Mereka mengenakan pakaian dinas lengkap dan hanya berjaga-jaga di sekitar warga yang sedang berorasi.
Siti yang setelah digusur ini tinggal bersama anaknya di Kebayoran mengaku sering menggigil kedinginan bila hujan deras mengguyur kota Jakarta. Meski begitu semangatnya tak pernah padam untuk meminta ganti rugi yang layak selama 30 tahun ia dan keluarga tinggal di daerah tersebut. Warga RT 16 RW 9 Kelurahan Rawasari, Cempaka Putih, Jakarta Pusat digusur dari rumahnya dan rencananya areal yang sebelumnya mereka gunakan untuk tempat tinggal akan dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) oleh pemerintah daerah DKI Jakarta.
(feb/adi)











































