Sembilan orang tersebut adalah warga Dukuh Tangkisan, Desa Karangmojo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali. Mereka diduga terjangkit sapi milik salah seorang warga bernama Ramelan.
Berdasar hasil penyelidikan yang dilakukan Dinas Kesehatan Pemkab Boyolali, diketahui sapi yang diduga penyebar penyakit tersebut dibeli Ramelan dari Pasar Hewan Karanggede pada 8 Januari lalu. Namun tak lama setelah dipelihara, ternyata sapi tersebut diketahui menderita sakit yang semakin hari semakin parah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua hari setelahnya, sejumlah orang mengeluh pusing dan demam tinggi yang diikuti munculnya bintik-bintik di kulit dan melepuh. Bahkan beberapa diantaranya membengkak dan melebar ke bagian yang lainnya. Lima orang dari sembilan warga yang mengalami gejalan tersebut lalu dirawat inap di rumah sakit, empat lainya menjalani rawat jalan.
Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Boyolali, Yulianto Prabowo, mengatakan secara klinis dan penyelidikan epidemologis di lapangan, sembilan warga tersebut memang suspect antraks kulit.
"Dilihat secara klinis luka itu memang suspect antraks. Dari riwayatnya kesembilan orang itu pernah kontak dengan sapi yang sakit, bahkan mereka yang menyembelih. Untuk memastikan penyakitnya, kami telah mengambil sampel untuk diuji laboratorium di Semarang dan Jakarta, 10 hari kedepan akan keluar hasilnya," ujar dr Yulianto Prabowo, Sabtu (19/2/2011).
Yuli mengatakan pihaknya terus memantau kondisi kesehatan warga di wilayah tersebut untuk mengantisipasi penularan. Pasalnya, penyakit tersebut bisa menular ke orang lain. "Diduga jenis antraks kulit. Sebenarnya tidak begitu fatal dan penderita masih bisa pulih," lanjutnya.
Yulianto juga menghimbau warga untuk tidak mengkonsumsi daging gewan yang tidak segat. Dia menghimbau, ternak yang mati karena sakit sebaiknya dikubur dan tidak dikonsumsi dagingnya.
Khusus untuk hewan yang mati karena antraks dikubur di tanah tidak produktif, karena tanah itu tidak boleh diolah apalagi dihuni. Mengingat virus antraks bisa bertahan hingga 50 tahun.
Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Boyolali, Dwi Priyatmoko, mengatakan pihaknya juga telah mengambil sampel tanah untuk dilakukan penelitian di laboratorium. "Kami belum bisa menyimpulkan, sampel masih diuji di laboratorium," ujarnya.
(mbr/lh)











































