Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar mengakui pihaknya menerima laporan dugaan penculikan Fifik tersebut. "Laporannya ada ke Polda Metro, dua hari yang lalu," kata Baharudin saat dihubungi detikcom, Jumat (18/2/2011).
Baharudin mengungkapkan, penyidik masih mendalami laporan Indri tersebut. Penyidik sendiri belum bisa menyimpulkan hilangnya Fifik itu adalah tindak pidana penculikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, istri Fifik, Indri tengah bersedih atas hilangnya suaminya itu. "Saya nggak tahu harus gimana lagi," kata Indri yang dihubungi kemarin sambil terisak.
Indri mengungkapkan, suaminya menghilang sejak Kamis (10/2) malam lalu. Saat itu, Indri mendapat telepon dari suaminya yang mengatakan jika dirinya hendak pulang ke rumahnya di Cluster Alamanda, Bekasi.
"Katanya mau pulang, tapi mau ketemu sama nasabah dulu. Katanya mau ada investasi emas Rp 500 juta di Pulogadung," katanya.
Selang beberapa menit kemudian, Indri menerima pesan gambar (MMS) dari handphone suaminya. Karena GPRS ponsel Indri tidak aktif, ia lalu menanyakan kepada suaminya.
"Saya tanya maksudnya apa, tapi suami saya nggak balas," katanya.
Beberapa menit kemudian, Indri kembali menerima pesan singkat dari nomor ponsel suaminya. Isi SMS suaminya itu cukup mengejutkan dirinya.
"Aa dijebak..Aa ada dalam mobil box..nggak tahu mau dibawa kemana," tulis pesan tersebut.
Merasa cemas, Indri kemudian melapor ke Polres Bekasi. Namun, karena laporannya saat itu belum 1x24 jam, maka pihak Polres Bekasi meminta Indri melapor ke Polsek Pulogadung. Namun, karena laporannya di sana juga ditolak, ia kemudian melapor ke Polda Metro Jaya.
"Sampai sekarang saya belum dapat kabar dari dia," katanya.
Sementara itu, Didit, bos Fifik mengakui jika Fifik adalah karyawannya. Didit mengaku tidak mengetahui kemana perginya Fifik sepulang kerja. "Waktu itu dia cuma pamit, katanya mau pulang," kata Didit.
(mei/irw)











































