"Ini sebenarnya merupakan kegiatan rutin tiap tahun. Kegiatan ini sudah yang ke 15 kali dan saat ini Indonesia yang jadi tuan rumah atau penyelenggara," kata Rio Rini Diah Moehkarti dariΒ Kantor Urusan International Universitas Gadjah Mada (UGM) di Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (18/2/2011).
Menurut Rio, pertemuan International Youth Conference tersebut diselenggarakan oleh UGM bekerja sama dengan Pemerintah Propinsi (Pemprop) DIY dan oleh Kementerian Pemuda dan Olah Raga. Pertemuan ini seharusnya dilaksanakan pada bulan November 2010, namun karena Yogyakarta tengah dilanda bencana erupsi Merapi kemudian ditundah hingga bulan Februari tahun 2011 di Hotel Saphir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rio mengatakan beberapa perwakilan delegasi saat ini sudah ada yang tiba antara lain Vietnam, Singapura, Mexico, Cina, Jepang, Italia, Spanyol dan lainlain. Total jumlah peserta sebanyak 144 orang dari 37 negara di seluruh dunia.
"Pembicara dari luar yang sudah konfirm hadir adalah Mikolifala dari Finlandia, Mark Chen Singapura dan Michael Cordova dari Mexico," katanya.
Sementara itu Eko Sugiharto menambahkan melalui konferensi diharapkan para pemuda mempunyai kesadaran akan perubahan iklim global yang cepat ini sehingga bila melakuka berbagai antisipasi dan pencegahan.
Peserta konferensi akan dibagi menjadi tiga kelompok diskusi panel. Pertama tentang managing our environment meliputi learning for the past, art for the future. Kedua mengenai youth initiative on envirotmental conservation dan ketiga pro poor conservation as a win-win solution.
Eko kemudian mencontohkan adanya dampak perubahan iklim yang saat ini dirasakan
yakni musim hujan yang tanpa henti sepanjang tahun. Oleh karena itu, masyarakat
perlu diberitahu sehingga bisa beradaptasi secara cepat.
"Contohnya masyarakat Gunungkidul, Yogyakarta yang selama ini selalu memproduksi
gaplek dari ketela pohon yang dikeringkan dengan sinar matahari.Β Namun
cara-cara seperti itu sudah tidak bisa dilakukan sehingga perlu cara lain yang
bisa dilakukan.
"Dulu membuat gaplek, singkong dibelah dan tinggal dijemur di genting. Namun
sekarang musim panas tidak jelas, singkong bukannya jadi gaplek melainkan
menjadi keras seperti kayu dan menghitam. Pola perubahan ini yang harus kita
sosialisasikan pada masyarakat,β kata Eko.
Menurut dari pertemuan itu peserta bisa belajar langsung di masyarakat sehingga
akan melahirkan beberapa rekomendasi sebagai bahan masukan untuk lembaga
eksekutif maupun legislatif. "Hasil ini kita harapkan bisa dibawa dan menjadi
bahan pembelajaran masingmasing peserta," pungkas Eko.
(bgs/lrn)











































