"Yang terjadi di sana bukan karena kami, tapi itu kehendak rakyat di sana," kata Dubes AS Scot Marciel dalam perbincangan di kediamannya, Menteng, Jakarta, Jumat (18/2/2011).
Menurut Marciel, sebelum terjadinya revolusi Mesir pun, AS senantianya mendukung kebebasan berpendapat dan reformasi di Mesir. AS, klaim Marciel, tidak berkepentingan dengan siapa pengganti Presiden Hosni Mubarak.
"Bukan siapa yang sebaiknya pergi, tapi meminta mereka lebih mendengarkan kehendak rakyat dan tidak menggunakan pendekatan kekerasan," kata Marciel.
AS pun percaya dengan komitmen pemerintahan transisi di Mesir yang dipegang militer. Mereka yakin, militer akan membawa Mesir menuju pemilu dengan baik dan tidak lantas menjadi rezim baru.
"Kita bukan mendukung militernya, tapi transisinya. Mereka telah mengatakan berkomitmen untuk transisi itu," jelas Marciel.
Terkait dengan mencuatnya peran organisasi Ikhwanul Muslimin di Mesir, Marciel tidak memberikan komentar khusus. Tapi Marciel berharap tidak ada pihak mana pun yang mengganggu proses transisi di Mesir.
"Jangan ada kelompok yang membajak proses transisi menuju demokrasi," ujarnya.
(fay/nrl)











































