"Saya tidak tahu apa yang terjadi," ujar Hatta saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (18/2/2011).
Lepas dari persoalan teror kepala babi, Hatta mencermati tingginya biaya kuliah di ITB. Dia mengaku sempat didatangi beberapa orang dari keluarga mahasiswa ITB yang sempat mengeluhkan tingginya biaya kuliah di ITB.
Hatta mengaku dirinya langsung menanyakan kepada Rektor ITB. Berdasarkan penjelasan sang rektor, Hatta menyatakan tingginya biaya kuliah tersebut karena adanya subsidi silang untuk membantu mahasiswa yang tidak mampu.
"Saya bicara sama rektor, Pak Rektor menjelaskan 60 persen daripada itu (biaya) dicross subsidikan kepada yang tidak mampu. Jadi sebetulnya kalau di rata-rata ya tidak segitu, murah juga di bawah," jelasnya.
Hatta menyatakan yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai ada orang yang memiliki otak pintar tetapi tidak bisa kuliah karena biaya yang tinggi. Pemerintah telah menyediakan beasiswa dan adanya subsidi silang seperti yang dilakukan ITB. Hanya saja, memang perlu diakui, ITB kurang menginformasikan program tersebut dengan baik.
"Yang dikhawatirkan orang yang punya otak tapi orang tua gak mampu, dia gak bisa kuliah. Nah itu tidak boleh terjadi, di samping disediakan beasiswa pemerintah maka perguruan tinggi-perguruan tinggi itu biasanya menyediakan dana-dana subsidi silang seperti itu. Nah ITB melakukan itu, ini yang tidak terinformasikan dengan baik. Tapi kalau soal (peneroran) itu tidak tahu. Saya akan bicara soal itu dengan Pak Rektor," tandasnya.
(nia/ndr)











































