"Ujicoba menggunakan stiker bersifat temporari. Nanti pada akhir Maret akan dievaluasi dan tata caranya akan diubah memakai radio frequency and detefication (RFAD)," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono.
Hal ini disampaikan Pristono di Gedung Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (18/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau masuk ke POM bensin nanti akan ada Radio Frequency yang mendeteksi sudah isi bensin atau belum. Jadi nggak bisa curang," kata dia.
Menurut dia, angkutan plat kuning ini hanya diberi jatah satu kali pengisian. "Yang jelas dalam satu hari satu kali ngisi. Berapa liter-nya saya belum tahu. Mungkin penerapannya setelah koordinasi dengan Kementerian ESDM dan Perhubungan karena Pemprov hanya sebagai objeknya," kata pria yang akrab disapa Pris ini.
Selain itu, kata Pristono, alat canggih tersebut memiliki kemampuan untuk mendata jumlah angkutan umum yang beroperasi di Jakarta.
"Jadi angkutan yang nakal seperti tidak punya pelat nomor akan susah nanti," kata dia.
Rencananya alat tersebut akan difasilitasi oleh Kementerian ESDM dan Perhubungan. "Penerapannya dilakukan bertahap, setelah stiker berbarcode. Setelah berhasil baru pakai cara yang ini," imbuhnya.
Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan uji coba per Februari ini. Rute yang dipilih sebagai uji coba adalah Senen-Kp Melayu. Di mana di sepanjang jalur tersebut saat ini ada lima SPBU yang melayani kendaraan bersubsidi.
"Jadi yang akan diuji coba angkot M01 sebanyak 269 kendaraan, M01A 124 kendaraan, M01G 16 kendaraan. Totalnya sekitar 409 kendaraan. Dan hanya berlaku di 5 SPBU, seperti di SPBU Jalan Jatinegara, Jalan Jatinegara kecil, Jalan Matraman sebelah Shell, Jalan Matraman sebelah Gramedia, dan Jalan Kramat Raya. Karena SPBU itu dilalui angkutan ini," papar Pris.
(lia/aan)











































