"US$ 600 ribu hanya untuk pembersihan dan US$ 3 juta untuk total proyek pemulihan di Borobudur, Magelang dan candi lain daerah DIY," kata Direktur UNESCO Hubertz Gigzen disela-sela penanaman pohon di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (17/2/2011).
Hubertz menyatakan dana sebesar itu merupakan bentuk kepedulian UNESCO terhadap kebudayaan dan dunia wisata. Sebab, Candi Borobudur merupakan warisan peninggalan dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diektur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo mengungkapkan proses pemulihan dan penyelamatan candi terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap penanggulangan darurat dalam waktu 6-12 bulan.
"Seperti pembersihan candi dari abu vulkanik dan mengantisipasi cuaca ekstrem yang sampai saat ini mengancam," tutur Yunus.
Dengan terjadinya curah hujan yang sangat tinggi selama setahun, maka kondisi batu candi akan terancam sehingga perlu dibersihkan secara detil dan jeli. Menurut dia, dibutuhkan pekerjaan lebih detil untuk menghilangkan beberapa endapan dalam struktur candi yang menyelinap di beberapa struktur batuan. Kemudian, dilakukan pemantauan sambil mengantisipasi timbunan yang terembunyi.
"Candi Borobudur banyak cekungan, relief dan relungan yang harus dibersihkan. Pembongkaran lantai sudah dimulai dan bisa sampai 3 tahun. Tergantung dana dan kasus yang kita hadapi. Dana tidak dialokasikan khusus dan diberikan langsung kepada balai konsevasi. Di atas Rp 2 miliar sudah dikeluarkan dananya untuk konservasi," ujar Yunus.Β
Kemudian tahap kedua merevitalisasi lingkungan sekitar candi antara lain dengan menanaman kembali zona 1, zona 2 dan zona 3 Candi Borobudur secara bertahap. Ribuan pohon di sekitar candi telah roboh dan patah akibat abu vulkanik.
Tanpa penghijauan, hawa di sekitar candi akan panas dan kelembaban menurun dan mempengaruhi candi. Pohon yang ditanam merupakan pohon dengan akar mencengkeram dan tidak menyebar sehingga tidak merusak dan mengancam keberadaan candi. Tahap ketiga adalah merehabilitasi kehidupan masyarakat sekitar candi.
"Dalam erupsi kemarin, banyak kegiatan sosial ekonomi yang terhenti. Kita berusaha untuk mengkampanyekan agar datang ke Borobudur dan diharapkan ekonomi sosial masyarakat bisa kembali pulih. Tiga tahapan ini akan kita lakukan selama 2-3 tahun ke depan sampai kondisi perekonomian ini pulih kembali," tutur Yunus.
Konsul Kehormatan Mexico, Warwick Purses, yang juga penggagas 'Friends Of Borobudur' menyatakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat terhadap Borobudur adalah membuat kerajinan dari pasir dan abu vulkanik Merapi di candi Borobudur.
"Sisa abu vulkanik yang lebih dari 200 ribu meter kubik dijadikan peralatan seperti tempat sabun, tempat pasta dan sikat gigi, tempat tisu dan lainya," ungkap Warwick.
Barang-barang itu dijual ke Eropa dan Amerika. Hasil penjualan akan disumbangkan untuk konservasi, pemulihan dan pemeliharaan Candi Borobudur.
(fay/fay)











































