Ritual Ciswak di TITD Seng Ho Bio, Singaraja, Rabu (17/2/2011) dipimpin rohaniawan Hendarto Halim yang akrab disapa Yong Ik dan diikuti para umat Tri Dharma di Kabupaten Buleleng dengan rangkaian upacara pemujaan dan diakhiri dengan pelepasan burung, ikan maupun penyu.
"Ini dibilang tolak bala, jadi supaya kita bisa terlepas dari semua bencana. Kita memohon dan meminta restu dari Yang di Atas. Prosesnya didahului dengan persembahyangan yang kemudian dilanjutkan dengan memotong rambut dan membuang kacang lima jenis untuk menghindari bala kemudian dilanjutkan dengan melepas burung atau ikan maupun penyu," papar rohaniawan TITD Buleleng, Hendarto Halim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tempatnya memang sangat terbatas sehingga kita lakukan secara bergelombang dan tolak bala atau Ciswak ini merupakan tradisi yang turun temurun dan sudah berlangsung ratusan tahun," cerita Yong Ik.
Salah satu umat TITD yang melaksanakan Ciswak, Gede Heriawan Wijaya mengatakan, hampir setiap tahun melakukan ritual Ciswak yang diyakini keluarganya sebagai tolak bala untuk mendapatkan jalan keberuntungan. "Kita bersama keluarga selalu setiap tahun melakukan tradisi ini. Kalau tahun lalu dilakukan di TITD Lie Gwan Kiong dan tahun ini di sini. Tradisi ini merupakan sebuah keyakinan untuk diberikan keberuntungan," ujarnya.
Ciswak, sebagai ritual tolak bala di TITD Seng Ho Bio telah dilakukan ratusan tahun lalu. Ritual itu kemudian dilakukan secara turun temurun hingga saat ini. Namun ritual tersebut selanjutnya dilakukan secara bergantian di dua Tempat Ibadah Tri Dharma di Seng Ho Bio dan Lie Gwan Kiong.
(gds/fay)











































