Badan Intelijen AS Gelagepan Ditanya Agenda Ikhwanul Muslimin

Badan Intelijen AS Gelagepan Ditanya Agenda Ikhwanul Muslimin

- detikNews
Kamis, 17 Feb 2011 15:25 WIB
Washington - Badan intelijen AS menghadapi aneka pertanyaan yang sulit dari anggota Senat tentang Ikhwanul Muslimin. Mereka mengaku tidak yakin pada pandangan maupun tujuan kelompok oposisi di Mesir itu.
ย 
Para petinggi spionase itu berjuang untuk menjawab pertanyaan tentang agenda kelompok gerakan Islam itu, di tengah tudingan kegiatan mata-mata gagal di Mesir sehingga terpaksa Hosni Mubarak lengser. Demikian dilansir AFP, Kamis (17/2/2011).

Direktur Nasional Intelijen James Clapper dalam sebuah rapat dengar pendapat dengan senator menyatakan, Ikhwanul Muslimin tidak bicara satu suara dan dia tidak yakin tentang sikap kelompok itu tentang Iran, pakta damai Mesir-Israel dan penyelundupan senjata ke Gaza.

"Sulit dalam hal ini untuk menunjuk ke sebuah agenda tertentu dari Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah kelompok," ujarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dianne Feinstein, ketua komite intelijen, tidak puas atas jawaban Clapper dan menegaskan bahwa badan intelijen butuh usaha lebih baik untuk memahami sebuah kelompok yang membentuk peristiwa politik di Mesir.

"Dari perspektif intelijen, sangat penting kita mengetahui apa posisi (dari Ikhwanul Muslimin) dan apa yang cenderung terjadi. Mesir merupakan negara kunci di Timur Tengah. Dan saya khawatir tentang itu," katanya.

Clapper mengatakan, badan-badan intelijen akan memperkuat upayanya. "Ini jelas sesuatu yang kita akan lihat. Kami harus meningkatkan pengamatan kami," katanya.

Badan-badan intelijen AS menikmati hubungan mesraย  lebih dari tiga dekade dengan rezim Mubarak, yang salah satunya untuk mengetahui gerakan dan menekan Ikhwanul Muslimin.

Peran masa depan Ikhwanul Muslimin menjadi diskusi panas di AS, sejumlah wakil rakyat mengingatkan kelompok ini memiliki tujuan garis keras.

Beberapa kritikus mengatakan CIA mengandalkan ketergantungan pada rezim-rezim Arab untuk melawan militan Islam sehingga gagal melacak gerakan oposisi dan kerusuhan sosial di Timur Tengah.

Feinstein menyalahkan badan-badan intelijen yang mengabaikan media sosial yang sebetulnya bisa menghasilkan laporan yang berguna. Facebook, Twitter dan soal media lainnya harus diawasi sangat hati-hati.

Clapper pekan lalu menyebut Ikhawanul Muslimin adalah kelompok sekuler. Namun dalam sidang dengan senat hari Rabu, dia mengakui telah membuat kesalahan. Dia menyebut Ikhawanul Muslim tidak sekuler.

"Yang saya ingin sampaikan, Ikhwanul Muslimin di Mesir berusaha untuk bekerja melalui sistem politik yang sebagian besar orientasinya sekuler," ujarnya. (nrl/vta)


Berita Terkait