Presiden: Pendidikan Agama Munculkan Fanatisme & Militansi
Senin, 17 Mei 2004 11:56 WIB
Jakarta - Presiden Megawati menilai, pendidikan agama telah melahirkan insan yang fanatik, yang hanya memandang ajaran agamanya yang paling benar dan melahirkan sikap memusuhi terhadap siapa pun yang tidak mau menerimanya."Kita juga menyaksikan lahirnya insan yang kemudian mengagulkan (membesar-besarkan dan mengunggulkan-red) agamanya sebagai yang paling unggul dan dengan cepat menampilkan sikap yang mudah tersinggung dan agresif," papar Mega dalam pidato sambutan saat membuka Raker Pejabat Departemen Agama (Depag) Pusat dan Daerah di Istana Negara, Jl.Veteran, Jakpus, Senin (17/5/2004)."Militansi yang menyertainya tidak jarang mengedepankan paham bahwa apa saja yang berbeda harus dipinggirkan atau kalau perlu dimusnahkan. Dan tugas untuk itu merupakan tugas suci yang mutlak harus dipenuhi," sambung Mega.Menurutnya, meskipun itu tidak semua, namun masyarakat dapat merasakan dan memantau perkembangannya. "Bila demikian keadaannya, pada gilirannya jelas akan mengikis toleransi yang hidup dalam tradisi kehidupan masyarakat," ungkap Mega.Karena itulah Mega mengimbau agar pendidikan agama perlu direnungkan dan dikaji agar pengajaran agama yang diberikan tidak semata-mata menghasilkan umat sebagai pemeluk baru, yang bersedia membela agama yang dipeluknya, dengan cara dan bentuk apa pun."Ada baiknya kita melihat apakah substansi dan metode pengajaran dalam keseluruhan sistem pendidikan agama yang kita miliki sekarang ini tepat atau ada hal-hal kurang," imbau Mega."Saya berpandangan bahwa pengajaran agama haruslah mampu menularkan dan menanamkan pemahaman yang benar tentang moralitas dan pekerti yang tersirat dalam ajaran agama. Pengajaran agama harus lebih memungkinkan para peserta didiknya dalam menangkap api dalam setiap ajaran agamanya," demikian Presiden Mega.
(nrl/)











































