"Bom molotov ini hanya indikasi teror. Kalau mau habisi saya, pelaku bisa lempar bom molotov ke mobil sehingga bisa meledak atau melempar ke atap rumah," kata Hendrawan kepada wartawan di rumahnya, Jl Tukad Gangga, Denpasar, Selasa (15/2/2011).
Rumah Hendrawan dilempar sebuah bom molotov Selasa dini hari tadi. Beruntung, bom ini tak menghanguskan rumah dan hanya meninggalkan jejak jelaga hitam di pintu dan halaman rumah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia merasa bahwa aksi teror itu tak ada kaitannya dengan isi pemberitaan koran tersebut. Pasalnya, tidak ada komplain dari nara sumber atau pihak lain yang merasa dirugikan terhadap isi berita yang dimuat di Bali Tribun.
"Kaitannya apa, saya tidak tahu. Belakangan ini tidak ada komplain. Saya justru ingin tahu. Tidak ada ancaman teror sebelumnya terhadap saya," kata Hendrawan.
Hendrawan menyarankan jika ada pihak yang keberatan dengan berita, agar menempuh klarifikasi ke pemimpin redaksi.
"Silahkan klarifikasi dan gunakan hak jawab. Kita tidak mau wartawan diancam oleh pihak lain. Wartawan kami pun selalu diingatkan Tetap jaga kode etik dalam berkarya," kata Hendrawan. (gds/irw)










































