Menelisik Penjegal Gus Dur
Minggu, 16 Mei 2004 09:02 WIB
Jakarta - Gus Dur menuding 3 orang tokoh telah menjegal pencalonannya sebagai Presiden. Mereka yakni seorang capres dan 2 pejabat pemerintahan. Siapa orang yang dimaksud Gus Dur?Seperti kebiasaan Gus Dur sebelumnya, Gus Dur tak mau menyebutkan nama orang yang ditudingnya. Dalam jumpa pers di kantor DPP PKB, Jakarta, capres PKB ini hanya memberikan ancar-ancar 2 pejabat itu, Sabtu (15/5/2004) kemarin berada di luar negeri.Sedangkan saat berada di Yogya, Gus Dur menyebut salah seorang capres telah mempengaruhi MA menolak judicial review terhadap SK KPU mengenai syarat capres. Untuk tudingan yang satu ini Gus Dur tak sedikitpun memberi gambaran orang yang dimaksudnya. Adakah orang itu Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Wiranto, Amien Rais ataukah Hamzah Haz? Gus Dur tak mau membukanya. Hanya saja jika ditelisik, dua orang capres akhir-akhir ini sering dekat dengan Gus Dur. Tadi malam Hamzah Haz melakukan pertemuan dengan Gus Dur di rumah mantan presiden ini di Ciganjur. Dengan bukti ini rasanya muskil Gus Dur menuding Hamzah Haz.Selain Hamzah, Gus Dur juga diketahui sering runtang-runtung dengan capres Golkar Wiranto. Hasil dari runtang-runtungnya Gus Dur merestui adiknya Salahuddin Wahid menjadi cawapres Wiranto. Kalau menilik hal ini rasanya juga agak tipis kemungkinan Gus Dur mengarahkan telunjuknya kepada Wiranto.Dengan demikian tersisa 3 capres lagi yang bisa dijadikan tersangka, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Amien Rais. Di antara ketiganya siapakah yang paling berpeluang? Gus Dur pernah secara terbuka menyatakan kecewa dengan SBY yang dinilainya "bertingkah" setelah Partai Demokrat (PD) menjadi bintang Pemilu. "Belum jadi presiden saja kok begitu. Bagaimana kalau jadi Presiden," kata Gus Dur suatu waktu. Jadi SBY kah yang bisa menjadi tersangka? Tampaknya tak bisa terburu-buru disimpulkan begitu. Pasalnya Gus Dur juga menyimpan masalah dengan Megawati. Gus Dur bahkan menolak bertemu Mega yang akan meminta restu untuk menggaet Hasyim Muzadi.Sementara dengan Amien Rais, Gus Dur memendam kejengkelan gara-gara terjungkal dari kursi presiden. Namun Gus Dur akhir-akhir ini tak lagi membuat pernyataan atau pun sikap yang menunjukkan tanda-tanda membenci Amien Rais. Lagi pula Amien dengan perolehan yang kecil bisa jadi kurang "masuk akal" diperhitungkan Gus Dur. Siapa capres itu? Tampaknya kandidat tersangka tekuat tinggal Mega dan SBY. Siapa di antara mereka yang lebih besar kemungkinannya? kelihatanya telunjuk lebih kuat mengarah ke Megawati. SBY meskipun "dijengkeli" Gus Dur, karena berada di luar sistem akan kesulitan menebar pengaruh di MA. Sedangkan Megawati sebagai Presiden mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi MA. Akbar dan Taufiq KiemasKemudian siapa pula dua pejabat yang mendalangi keputusan KPU menyatakan Gus Dur tak memenuhi syarat capres? Jika bertolak pada statemen Gus Dur, orang itu pejabat pemerintahan, bisa saja sang tersangka adalah menteri di kabinet Megawati. Tapi siapa di antara para menteri yang bepergian ke luar negeri? Ini yang agak sulit diketahui. Pantauan wartawan terakhir belum mengetahui adanya menteri yang melakukan lawatan ke luar negeri.Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda juga menyatakan tak tahu adanya menteri yang berkunjung ke luar negeri. "Saya tak tahu. Tanya saja Gus Dur yang lebih tahu," kata Hassan saat dicegat wartawan usai mengikuti pertemuan Presiden Mega dengan Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, di Hotel Patra Bali, Sabtu (15/5/2004) kemarin malam.Pantauan wartawan hanya menemukan Akbar Tandjung dan Taufiq Kiemas yang berada di luar negeri. Akbar hingga Sabtu (15/5/2004) berada di Washington, Amerika Serikat (AS). Sementara Taufiq Kiemas, sejak Selasa (11/5/2004) berada di Perth Australia untuk berobat. Namun Sabtu (15/5/2004) malam, Taufiq sudah berada di Bali.Akbar atau Taufiq kah yang dituding Gus Dur? Waallhuaalam. Tapi siapapun tokoh yang kena tuding, Gus Dur sebaiknya segera membukanya. KPU, MA dan para capres pun juga harus segera membuat klarifikasi atas tudingan itu.Jangan sampai isu dibiarkan terus menggelinding dan menimbulkan kasak-kusuk yang bisa memperkeruh suasana menjelang Pemilu Presiden. Selain itu para pemimpin juga harus membuat contoh bagaimana bermain politik yang cantik. Tidak mudah menuding lawan. Juga tidak menggunakan kekuasaan untuk menjegal lawan.
(iy/)