Bertemu Presiden Mega
Xanana Ingin Tutup Kasus HAM
Minggu, 16 Mei 2004 01:27 WIB
Tuban - Presiden Timor Leste Xanana Gusmao ingin menutup masa lalu terkait lepasnya Timor Leste dari Indonesia seperti pelanggaran HAM berat pasca jajak pendapat Timtim. Xanana ingin hubungan bilateral dengan Indonesia tak terganggu. Sikap Xanana disampaikan Menlu Hassan Wirajuda usai mengikuti pertemuan antara Presiden Megawati dengan Presiden Timor Leste, Xanana Gusmao, di Hotel Patra Bali, Tuban, Sabtu (15/5/2004) malam. "Sebetulnya mereka secara terbuka, juga menyatakan termasuk dalam pertemuan tadi, ingin menutup sejarah dari masa lalu. Mereka sama seperti kita ingin melanjutkan hubungan yang berorientasi ke depan," kata Hassan.Menlu menyatakan, sikap Xanana disampaikan dalam upaya menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dari lepasnya Timor-Timor dan upaya untuk membangun hubungan bilateral yang lebih baik.Namun, kata Hassan, ada bagian dari masa lalu yang masih terus dilanjutkan upaya penyelesaian termasuk tuduhan pelanggaran HAM. Penyelesaian masalah tersebut telah dilakukan oleh kedua negara. Di Indonesia ada proses peradilan ad hoc HAM. Sementara di Tomor Leste ada 2 proses penyelesaian yaitu proses Security Crime Unit (SCU) dan proses pencarian kebenaran dan rekonsiliasi. Kedua proses itu, mendapat sorotan dari masyarakat internasional. Menlu menegaskan pertemuan tersebut tak membahas secara sepesifik tentang isu penangkapan Wiranto oleh SCU. Tapi Timor Leste menjelaskan, kedudukan SCU di negaranya menyulitkan pemerintahan termasuk diantaranya isu pengeluaran surat penahanan SCU. "Kedudukan SCU yang ada di Timor Leste juga menyulitkan pemerintah Timor Leste termasuk misalnya pengeluaran surat penahanan oleh SCU bukan oleh Timor Leste. Padahal kepentingan Timor Leste agar hubungan bilateral Indonesia-Timor Leste tak terganggu," kata Hassan.Hassan membantah masalah penyelesaian kasus RI-Timor Leste sengaja diangkat menjelang Pilpres. Sebetulnya tidak. Sebab kalau dilihat dari momentumnya di Indonesia peradilan ad hoc HAM hampir memasuki bagian akhir. Jadi ini bagian yang melibatkan RI, Timor Leste, dan masyarakat internasional. Tak spesifik agenda pemilihan Presiden," katanya.
(iy/)











































