Demikian ujar anggota Kompolnas, Novel Ali, usai melakukan pertemuan dengan Forum Umat
Islam Bersatu (FUIB) Temanggung. Acara berlangsung di Gedung Pertemuan Pimpinan Daerah
Muhammadiyah (PDM) Jl. Dr Sutomo, Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (13/2/2011).
“Kesan yang pertama yang saya dapat, polri melakukan pembiaran, tetapi ini penilaian subyektif. Kalau pembiaran itu benar, berarti polri bunuh diri. Hal ini satu uji coba untuk polri yang sangat luar biasa,” ujar Novel Ali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Contohnya saja, tadi saya terima informasi dari teman-teman bahwa Mapolres dijaga ketat. Sementara masyarakat yang bergerak dari ruang pengadilan ke kota harus melewati dahulu Mapolres dengan jarak dua kilo. Lalu mengapa tidak diblokade atau dicegat? Jadi ada kesan bahwa polri lebih melindungi kepentingan ini ketimbang kepentingan masyarakat,” urai Novel.
Tetapi di sisi lain dia merasa ragu bila polisi melakukan pembiaran, sebab itu berarti polisi melakukan 'bunuh diri'. Maka kemungkinan personil di lapangan berada dalam situasi dilematis ketika berhadapan dengan massa sehingga tidak mengambil tindakan tegas dan tuntas.
“Kalau menurut logika umum saja pembiaran itu bunuh diri, jadi pasti tidak dilakukan. Polisi setengah-setengah mengambil tindakan karena jumlah massa lebih banyak. Pada titik di gereja dan sekolah Sekinah itu tetapi polisi kok tidak berani bertindak, menurut saya polisi dilematis. Menurut saya karena yang dihadapi kelompok mayoritas muslim. Polisi memang dilematis keras menegakkan hukum tapi dampaknya konflik yang lebih tajam pada kelompok mayoritas," papar Novel panjang lebar.
(lh/lh)










































