Seruan Toleransi Beragama di Indonesia dari Washington

Laporan dari AS

Seruan Toleransi Beragama di Indonesia dari Washington

- detikNews
Minggu, 13 Feb 2011 12:11 WIB
Seruan Toleransi Beragama di Indonesia dari Washington
Washington DC - Tragedi Cikeusik dan Temanggung membuat warga Indonesia di AS, terutama yang tinggal di Washington DC dan sekitarnya, merasa terusik, sedih dan prihatin. Dalam kesamaan kepedulian, para tokoh agama dan masyarakat menyerukan pesan moral untuk perdamaian dan toleransi beragama di Indonesia.

Ruang Presiden Kedutaan Besar Republik Indonesia AS di 2020 Massachusetts Avenue NW, Jum’at, 11 Februari 2011 sekitar pukul 8 malam waktu setempat, menjadi saksi seruan tersebut. Di antaranya tampak perwakilan agama Islam, Hindu, Katolik, Kristen dan organisasi masyarakat yang ada di Washington DC dan sekitarnya. Termasuk Perkumpulan Warga Kristiani (Perwakrin, Inc) dari New York yang hadir bersama Ustad M.Syamsi Ali. Acara ini dibuka oleh Dubes Dino Pati Djalal yang malam itu didampingi Ibu Rosa, dan DCM Salman Al Farisi.

Dalam pesan moral itu disebutkan bahwa tindak kekerasan atas nama agama sangat jauh dari sikap toleransi yang kita junjung bersama, bahkan telah melukai rasa kebersamaan dan kesetiakawanan antar umat beragama, serta jelas melanggar Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih jauh dinyatakan bahwa tindakan kekerasan tersebut dapat menodai citra dan ketauladanan Indonesia di dunia Internasional.  Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi rasa kebhinekaan, kita semua berkewajiban untuk menjaga kerukunan dan solidaritas , termasuk dengan menghormati dan mendukung minoritas.

Masyarakat Indonesia di Washington DC dan sekitarnya mendukung upaya pemerintah dalam menegakkan hukum, dengan menindak tegas para pelaku tindakan keji tersebut sesuai hukum yang berlaku, dan bersama masyarakat mencegah agar kejadian tersebut tidak akan terulang lagi.

Masyarakat Indonesia di AS juga menyerukan agar agama tidak boleh disalahgunakan untuk kelompok manapun untuk kepentingan sempit. Dan berharap, agar keteguhan dan kebersamaan kita sebagai satu bangsa dapat diteruskan kepada anak cucu dan generasi-generasi selanjutnya.

Ustad Syamsi Ali, penerima “The Ellis Island Medal Honor Award” tahun 2009 (penghargaan bergengsi non militer, berupa pengakuan tertinggi pemerintah AS kepada imigran yang telah memberikan kontribusi luar biasa bagi masyarakat AS dan dunia), seusai acara mengatakan bahwa tragedi Cikeusik tersebut sangat menyakitkan.

Imam Ali yang dedikasinya dalam membangun kerukunan antar komunitas agama menjadikannya terpilih menjadi salah satu dari 500 orang Islam paling berpengaruh di dunia versi “the Royal Islamic Strategic Studies Center in Jordan and Georgetown University” tahun 2009 ini sangat menyayangkan kejadian yang justru berasal dari kalangan umatnya dari tanah air.
“Tentunya kita sama-sama berusaha dan berdoa agar kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi,” katanya pada detikcom.

Masyarakat Indonesia di New York menurut rencana akan mengadakan dialog lintas agama di Mesjid Besar Al Hikmah, sepekan mendatang.
(eis/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads