Sebagian Warga Solo Sudah Melupakan Kerusuhan Mei

Sebagian Warga Solo Sudah Melupakan Kerusuhan Mei

- detikNews
Sabtu, 15 Mei 2004 02:51 WIB
Solo - Entah apa yang ada di benak Atikah. Dia seringkali tercenung dengan padangan kosong. Meski bukan tipe pendiam, Atikah tidak pernah berkeluh-kesah. Selain itu, dia juga tidak pernah bercerita tentang Adi, anaknya yang diyakini tewas terbakar pada kerusuhan Mei di Solo, enam tahun silam. Mungkin janda paruh baya itu lupa Jumat (14/5/2004) merupakan tahun keenam dia kehilangan anak bungsunya. Ketika detikcom mencoba menggugah kenangan itu, respon pertama Atikah adalah menatap tajam seolah tersentak sekaligus curiga. Beberapa hari sebelum kejadian, Adi selalu merajuk ibunya meminta dibelikan sepatu. Saat itu, Adi akan segera masuk SMP. Atikah, janda yang hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan memberi anaknya uang. Tepat pada hari kerusuhan, bersama beberapa temannya, Adi menuju sebuah toko sepatu di kompleks pertokoan Coyudan.Siapa sangka hari itu merupakan hari terakhir Atikah melihat anak bungsunya. Siang hari meletus kerusuhan besar di Solo. Hingga malam hari Adi belum pulang ke rumahnya di perkampungan padat penduduk, Baluwarti, Solo. Atikah dan tiga anaknya yang lain terus mencari, bahkan melacak sampai ke kantor polisi dan markas tentara dengan harapan dapat menemukan Adi.Satu-satunya informasi yang didapat berasal dari teman Adi. Menurut teman Adi, saat pertokoan mulai terbakar, mereka masih berada di tempat itu. Teman-teman Adi memutuskan untuk pulang, namun Adi menolak. "Mungkin Adi masuk toko sepatu karena dia memang mengatakan ingin sekali punya sepatu baru," ujar salah seorang teman Adi. Atikah segera menyadari kemungkinan anaknya menjadi korban kerusuhan tersebut. Ketika evakuasi puluhan mayat yang telah menjadi arang di kompleks pertokoan itu, Adi sama sekali tidak bisa dikenali lagi. Akhirnya di tengah ketidakjelasan itu, pihak keluarga memutuskan untuk mempercayai bahwa Adi telah tewas dan kepergiannya direlakan."Dia telah menjalani garis hidupnya seperti itu. Tapi sampai sekarang kadang-kadang saya masih tidak bisa mengerti, mengapa saat itu polisi dan tentara membiarkan terjadi kebakaran serta mengapa membiarkan juga orang-orang masuk ke toko-toko yang sedang terbakar," kata Atikah lugu dan datar tanpa ekspresi.Selebihnya, Atikah mengaku tidak tahu dan tidak lagi berharap pengungkapan kasus yang merenggut nyawa anaknya itu. Menurut Atikah, seandainya ada pihak yang salah atau dengan sengaja mendorong terjadinya kerusuhan, pembalasan pasti akan datang meski tidak seketika.Selain Atikah, para pengusaha dan warga Solo dari etnis Tionghoa juga bersikap skeptis atas pengungkapan kasus tersebut. "Kami ini memang minoritas yang sering diposisikan sebagai korban," ungkap Wei Nan yang sudah mengganti namanya menjadi Winanto.Menurut Humas Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Sumartono Hadinoto dampak kerusuhan itu belum bisa dipulihkan dengan benar hingga sekarang. PMS adalah organisasi warga etnis Tionghoa di Solo."Mungkin hingga tahun ini baru sekitar 30 persen capaian di sektor ekonomi yang bisa dipulihkan. Apalagi setelah itu masih disusul dua kerusuhan lagi. Hal itu menjadi pertimbangan besar dari investor untuk masuk ke Solo," paparnya. Beberapa bulan usai kerusuhan Mei, di penghujung tahun 1998, Kota Solo kembali menderita kerusakan meski tidak begitu parah. Pos-pos polisi dan rambu-rambu jalan dirusak dan dibakar anak-anak muda yang marah karena ditertibkan polisi saat balapan liar di jalan umum.Kerusuhan kembali terjadi pada Oktober 1999 seiring gagalnya Megawati memenangi pemilihan presiden dalam SU MPR. Balaikota, kantor pembantu gubernur, sejumlah kantor bank, serta fasilitas-fasilitas publik lainnya rata dengan tanah setelah dibakar massa pada hari itu juga. Julukan kota sumbu pendek semakin melekat bagi Solo.Sejarawan Solo Sudarmono, mencatat sejak 1965 hingga 1999 telah terjadi 8 kali kerusuhan berskala kecil maupun besar di kota pusat kebudayaan Jawa tersebut. Mungkin karena rentetan-rentetan kejadian itu pula sehingga banyak warga segera melupakan kejadian pahit yang telah mereka temui di sepanjang sejarahnya.Suranto misalnya, tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Kembang ini mengatakan tidak memiliki kesan apapun tentang kerusuhan Mei. Sementara, seorang karyawati sebuah swalayan di Solo, Maryati mengaku sudah mengubur dalam-dalam peristiwa tragis ketika dia berhasil lolos dari api yang melalap gedung tempatnya bekerja. "Sekarang kan sudah dibangun dan saya bisa bekerja lagi," jelasnya.Pemimpin MiliterSoal capres dan cawapres yang berlatar belakang militer, warga Solo masih beragam menyikapinya. "Silakan siapa saja yang penting memikirkan nasib rakyat," kata Atikah singkat. Ungkapan senada dikatakan Suranto. Sedangkan Maryati berkelit dengan mengatakan tidak tahu-menahu. "Kami ya sama saja etnis-etnis lain di Indonesia ini. Ada pula yang mendukung tokoh militer dengan berbagai alasan, ada pula yang menolak dengan alasan trauma masa lalu. Ada pula yang berpikir bahwa kepemimpinan sipil harus dipertahanan demi menjaga agenda reformasi yang telah enam tahun ini. Intinya kami ya terpecah-pecah seperti yang ada di etnis lainnya," papar Sumartono.Ada juga yang secara tegas menolak kepemimpinan nasional dipegang seseorang berlatar belakang militer. Alasannya TNI dinilai telah gagal memimpin negara, tidak mampu menciptakan kepastian keamanan serta akan membahayakan kehidupan demokrasi. "Kerusuhan Mei tidak akan terjadi kalau memang ABRI saat itu tidak membiarkannya," kata Priyanto, warga Solo lainnya. (rif/)


Berita Terkait