"Per Polres cuma Rp 40 juta per tahun, atau Rp 3 jutaan per bulan. Ini sangat tidak logis," kata anggota DPR komisi III, Tjatur Sapto Edi, dalam diskusi di Resto Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Jakarta, Sabtu, (12/2/2011).
Dana ini harus digunakan oleh masing- masing Polres guna memantau pergerakan masyarakat. Baik preventif, membaur dengan kelompok masyarakat, dan upaya lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi fungsi intelejen, sosiolog UI, Thamrin Tamagola membenarkan fungsi intelejen masih lemah. Dalam kasus Cikeusek Banteng, intel Polri bergerak tidak maksimal.
"Intelijennya harus diperkuat. Dulu, ada jarum jatuh di Papua ketahuan dari Jakarta," tandas Thamrin.
Adapun menurut Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi, Brigjen Ahmad Yani Basuki, pemerintah memahami posisinya yaitu mempunyai tugas dan kewenangan untuk mengelola apa yang dirisaukan masyarakat. Dalam menindak, pemerintah landasannya jelas yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
"Persoalannya, semua harus komitmen yang sama. Tapi jika ada yang menyimpang akan menjadi persoalan dari komitmen itu. Untuk mengamomodasi tentu tidak semudah yang kita gambarkan. Kita saat ini sudah pada substanis yang sama. Tinggal bagaimanakah ke depannya," ujar anggota militer aktif tersebut.
(asp/gah)











































