“Jika benar ingin masuk kabinet, maka semakin jelas PDIP bukan oposisi. Partai oposisi kok mau masuk kabinet?" ujar M Umar Syadat Hasibuan, pengamat dari dari Indonesia Political Institute, Kamis (10/2/2011).
Pernyataannya menanggapi keyakinan Ketua Dewan Pengarah Pusat PDIP Taufiq Kiemas bahwa Ketum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri tidak keberatan kader PDIP direkrut Presiden SBY masuk KIB II. Sepanjang kader yang bersangkutan berasal dari kalangan profesional dan tujuannya adalah menolong rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"PDIP kian menunjukkan wataknya yang pragmatis terhadap kekuasaan dan tidak konsisten menjalankan aturan main bagi perannya dalam sistem demokrasi. Jadi partai oposisi tapi di tengah jalan tiba-tiba mau masuk kabinet, jelas sekali tidak konsisten," kata dosen Ilmu Politik di Universitas Indonesia itu.
Menurutnya langkah PDIP akan berimplikasi serius terhadap dinamika demokrasi di masa mendatang. Peran sebagai partai oposisi harusnya terus dijalani konsisten yakni dengan tidak menjadi bagian dari pemerintahan sehingga bisa bisa memberi masukan kritis terhadap kebijakan pemerintahan.
Bila kelak dinamika politik reshuffle kabinet berbuah duduknya seorang kader PDIP dalam KIB II, maka mekanisme check and balances dalam demokrasi Indonesia akan musnah. Jargon andalan 'Partainya Wong Cilik' juga tak pantas lagi PDIP kenakan.
"Jika partai oposisi sudah gila kekuasaan, maka tidak ada lagi yang bisa benar-benar memperjuangkan 'wong cilik' dan 'partainya wong cilik' tinggal kenangan,” ujar Umar.
(nrl/nrl)










































