YLKI: Busway Saja Kedodoran, Sudah Bangun Monorel
Jumat, 14 Mei 2004 11:14 WIB
Jakarta - Pembangunan monorel diakui diperlukan untuk meningkatkan akses transportasi publik. Agar efektif, maka studi kelayakan monorel harus disosialisasikan."Yang dipertanyakan adalah soal pilihan teknologi, kenapa digunakan monorel? Kok tidak melakukan audit busway yang akan diperluas menjadi 14 koridor lebih dulu, apa sudah efektif atau belum?" kata Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Bidang Transportasi, Tulus Abadi, kepada detikcom di Jakarta, Jum'at (14/5/2004). Proyek monorel akan dimulai akhir bulan ini atau awal bulan depan. Proyek 2 tahun ini makan ongkos hingga Rp 5,5 triliun lebih. "Busway saja masih kedodoran, kok telah melangkah ke sistem teknologi dengan biaya yang lebih besar. Ini akan terjadi penggelembungan dan inefisiensi. Pemda DKI Jakarta selalu merasa lebih tahu mengenai transportasi tanpa bertanya dan meminta masukan ke masyarakat," ungkapnya.Dikatakan Tulus, dari sisi manajemen transportasi, monorel merupakan langkah meningkatkan akses transportasi publik. Monorel jalan tengah untuk mengurangi tingkat kepadatan di dalam kota yang dari sisi teknologi tidak mahal biayanya."Pembangunan monorel dibutuhkan mengingat tingkat mobilitas penduduk yang mencapai 70 persen, sedangkan transportasi yang tersedia hanya 20 persen," kata dia.Namun, kata Tulus, pembangunan monorel akan berdampak sosial tinggi jika tidak dikomunikasikan. "Secara teori tidak akan terjadi kemacetan, tetapi berdampak pada pembebasan rumah penduduk yang akan dilewati jalur monorel untuk pembangunan tiang pancang," ujarnya.Dampak lainnya akan dialami pemodal transportasi yang terancam tergeser konsumennya."Jika ini tidak dilakukan, maka akan menimbulkan dampak sosial yang tinggi," kata Tulus.Untuk itu, menurut Tulus, Pemda DKI Jakarta harus membuka hasil studi kelayakan kepada masyarakat. Studi kelayakan tersebut akan membuktikan misalnya apakah ada konsentrasi massa yang tinggi sehingga hanya dibangun di kawasan segitiga emas dan Kampung Melayu-Roxy dan alasan menunjuk Jepang sebagai mitra kerja. "Jika ini terbuka dan transparan, maka tidak akan menimbulkan pertanyaan besar," demikian Tulus Abadi. Proyek monorel senilai lebih Rp 5,5 triliun ini dijadwalkan bisa beroperasi pada akhir tahun 2006. Akan ada 2 jalur yang akan dibangun, yaitu green line melayani rute segitiga emas sepanjang 14,3 km dan blue line.Blue line melayani jalur Kampung Melayu-Roxy sepanjang 12,7 km. Rencananya, Jum'at (14/5/2004) Gubernur Sutiyoso dengan konsorsium PT Jakarta Monorel akan meneken kesepakatan pembagian wewenang.
(aan/)











































