Presiden Dukung Korban Mei '98 Tuntut Keadilan
Kamis, 13 Mei 2004 20:55 WIB
Jakarta -
Presiden Megawati Soekarnoputri mendukung perjuangan para korban tragedi Mei 1998 untuk meminta keadilan. Menurut Mega, peristiwa itu merupakan awan kelabu kehidupan berbangsa."Kita tidak semestinya melupakan dukungan bagi perjuangan untuk menuntut keadilan," kata Presiden Mega dalam sambutan peringatan 6 tahun peristiwa 13 Mei 1998 di Jl. Hayam Wuruk, Glodok, Jakarta Barat, Kamis (13/5/2004) malam.Menurut Mega, walaupun bukan satu-satunya peristiwa kelabu, tragedi Mei 1998 tercatat sebagai mendung hitam dalam sejarah kehidupan kebangsaan Indonesia."Banyak luka yang ditimbulkan oleh peristiwa enam tahun lalu. Bukan hanya karena jatuhnya korban jiwa, harta, tapi juga luka karena timbulnya rasa benci dan menipisnya kepercayaan antara satu kelompok atau golongan terhadap kelompok atau golongan lainnya," papar capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) ini.Namun demikian, masyarakat diminta untuk tidak terus larut dalam kebencian dan membiarkan rasa kebangsaan tercabik-cabik. Jangan biarkan tubuh kebangsaan menjadi compang-camping."Namun kita paham gelombang gerakan massa yang berskala nasional dan berlatar belakang ketidakpuasan politik menjadi bertambah dahsyat ketika bercampur dengan ketidakpuasan sosial yang dipicu oleh kesulitan ekonomi," lanjut Mega.Untuk itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu dalam memperbaiki kondisi tersebut. "Marilah kita perbaiki semua bersama-sama. Marilah kita bina keberagaman yang luar biasa ini demi kehidupan kebangsaan yang besar, kokoh dan padu," ujarnya.Ia juga menegaskan tidak adanya perbedaan warga negara Indonesia, antara warga keturunan dan pribumi. Ia juga menyebutkan, bagi warga keturunan tidak perlu lagi memiliki Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). "Jadi cukup hanya KTP sebagai tanda identitas penduduk," demikian Mega. Pada kesempatan tersebut, Presiden juga meresmikan Monumen Perdamaian yang menggambarkan dua pemuda-pemudi yang tengah memegang burung merpati. Patung setinggi 4 meter buah karya seniman Nyoman Nuarta itu terbuat dari perunggu. Rencananya, monument itu akan diresmikan pada peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 2004.Dalam acara yang juga dihadiri ratusan warga keturunan itu, Wapres Hamzah Haz tidak hadir. Justru yang hadir adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, yang juga cawapres Megawati. Hasyim mendapat tugas memimpin doa.Selain itu, acara itu juga dihadiri Menko Polkam ad interim Hari Sabarno, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, Wasekjen PDI-P Pramono Anung, Ketua PGI Pendeta Nathan Setiabudi dan Romo Alex Wijoyo.
(/)










































