Pemberitaan yang bersifat diskriminatif terhadap penganut agama minoritas harus dihindari. Pers juga perlu mengedepankan jurnalisme damai yang mendorong resolusi konflik, bukan malah eskalasi konflik.
"Tragedi di Cikeusik dan Temanggung perlu kita jadikan bahan refleksi, apakah pers telah menjalankan peran dalam menciptakan sikap toleran," kata Ketua AJI Indonesia Nezar Patria dalam rilis yang diterima detikcom, Kamis (10/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kasus Ahmadiyah, AJI mencatat masih banyak berita yang justru malah mempertajam keyakinan. Pers dianggap sering memberi ruang narasumber untuk melontarkan pernyataan-pernyataan yang bersifat menghasut.
"Tokoh-tokoh agama yang tidak toleran terhadap perbedaan diberi ruang besar oleh pers, sementara pemikiran yang toleran kurang mendapat porsi pemberitaan," terang Nezar.
Sementara terkait penyerangan gereja di Temanggung, AJI mencatat adanya pemberitaan yang menjadi penyulut kebencian terhadap umat Kristen dan Katolik terkait pengadilan penistaan agama oleh Antonius Richmond Bawengan.
"Berita yang tidak akurat dan tidak sensitif terhadap potensi konflik menjadi bahan bakar kerusuhan, tutup alumni Filsafat UGM tersebut.
(anw/nvc)











































