"Ikhwanul Muslimin tidak mencari kekuasaan," ujar salah satu anggotanya, Mohammed Morsi dalam sebuah konferensi pers di Kairo, seperti dilansir CNN, Rabu (9/2/2011).
Morsi menyatakan, pihaknya tidak berniat untuk mengisi kandidat presiden Mesir. Menurut Morsi, Ikwanul Muslimin hanya ingin berpartisipasi dalam demokrasi di Mesir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, mantan Ketua Blok Parlemen Ikhwanul Muslimin, Mohammed Katatny menanggapi tudingan sejumlah pihak yang menyebut bahwa organisasi tersolid di Mesir ini akan mendorong Mesir menjadi negara syariah Islam pasca Hosni Mubarak lengser.
"Kami menolak negara agama," tegas Katatny.
Selama ini, muncul kekhawatiran jika Ikhwanul Muslimin berada di balik aksi demonstrasi besar-besaran di Mesir untuk menggulingkan Hosni Mubarak. Ditakutkan mereka nantinya akan membajak gerakan pro demokrasi di Mesir.
Ikhwanul Muslimin yang merupakan gerakan oposisi terbesar dan paling terorganisir di Mesir ini, dibentuk tahun 1928 oleh Hassan al-Banna. Namun organisasi ini dilarang oleh pemerintah, alasannya karena Mesir tidak mengakui organisasi dengan agenda agama. Para anggotanya pun dilarang ikut serta dalam pemilihan presiden.
Tapi pada pemilu tahun 2005, seorang dari Ikhwanul Muslimin mengajukan diri sebagai calon independen. Mereka juga berhasil mendapatkan 88 kursi dari total 444 kursi parlemen.
Namun, kemenangan ini justru digunakan Mubarak untuk mengamandemen konstitusi Mesir dengan membatasi kandidat dari luar partai yang berkuasa, Partai Nasional Demokrat, untuk bersaing merebut kursi parlemen.
Banyak anggota Ikhwanul Muslimin diduga ikut menjadi bagian dalam demonstrasi yang pecah pada 25 Januari lalu. Diperkirakan sekitar 15-20 persen dari para demonstran adalah pengikut Ikhwanul Muslimin.
(nvc/anw)











































