Umumkan Temuan, Ketua Tim Komnas HAM Menangis

Umumkan Temuan, Ketua Tim Komnas HAM Menangis

- detikNews
Kamis, 13 Mei 2004 18:21 WIB
Makassar - Penembakan yang dilakukan oleh pihak kepolisian saat menyerbu ke dalam kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, dibidikkan pada bagian titik lemah manusia, yakni pada jantung.Hal ini diungkapkan oleh MM Billah, ketua tim Komnas HAM saat menggelar konferensi pers di Hotel Maricayya, Jl Sungai Saddang, Makassar, Kamis (13/5/2004). Billah mengumumkan temuannya sambil menangis.Buktinya, menurut Billah, dengan ditemukannya 2 bekas peluru yang ditemukan di Fakultas Teknik, UMI. "Bekas peluru itu ada di pintu dan jendela Fakultas Teknik. Bekas itu kurang lebih setinggi pundak," terangnya. Dengan ketinggian seperti itu, berarti bidikan diarahkan pada titik paling lemah manusia.Selain itu, Billah juga mengungkapkan temuannya tentang pemukulan anak di bawah umur oleh aparat kepolisian saat melakukan penyerbuan ke kampus UMI Makassar. "Umur anak itu 15 tahun, ia juga menjadi korban pemukulan aparat polisi," ujarnya.Billah mengungkapkan, bahwa anak itu adalah penjual kue yang sedang menjajakan dagangannya di kampus UMI saat insiden itu terjadi. "Saat mendengar tembakan, anak itu panik, akhirnya lari bersembunyi di Fakultas Teknologi Industri," cerita Billah.Karena polisi menyergap hingga ke dalam fakultas, anak itu tertangkap, dan dipukuli oleh polisi. "Kepalanya dipukuli pakai pistol sebanyak tiga kali. Lalu dipukuli pakai kaca, hingga pecah," ujar Billah dengan mata yang berlinang."Saat turun tangga.. rambutnya dijambakin dan dibenturkan ke tangga..padahal dia itu anak orang miskin yang jualan kue, untuk membiayai sekolahnya," tambah Billah, dengan air mata yang bercucuran, tak tahan menahan harunya.Dengan sejumlah temuan ini, Komnas HAM rencananya akan merekomendasikan ke rapat pleno Komnas HAM untuk diadakan penyelidikan lebih lanjut. "Sekarang kan masih dalam tahap pemantauan. Nantinya, kami akan meningkatkan ke tahap penyelidikan, agar polisi yang terlibat juga dapat kami periksa," terangnya.Bukti lain yang ditemukan antara lain, tidak adanya surat perintah yang ditujukan untuk masuk di kampus UMI, dan banyaknya mahasiswa yang tidak bersalah, menjadi korban aparat polisi. (nrl/)


Berita Terkait