Amankan Pejalan Kaki, Pemda DKI Perlu Review Posisi JPO

Amankan Pejalan Kaki, Pemda DKI Perlu Review Posisi JPO

- detikNews
Rabu, 09 Feb 2011 15:55 WIB
Amankan Pejalan Kaki, Pemda DKI Perlu Review Posisi JPO
Jakarta - Seorang bocah SD tewas diseruduk bus TransJakarta di Mampang, Jakarta Selatan. Agar peristiwa yang sama tidak terulang kembali, Pemda DKI diminta untuk mereview posisi jembatan penyeberangan orang alias JPO.

"Kalau di UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah dinyatakan pengemudi harus memberikan jalan kepada mereka yang menyeberang. Penyeberang harus menyeberang di tempatnya," ujar Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Ellen W Tangkudung dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/2/2011).

Jika tidak ada tempat penyeberangan jalan, maka pejalan kaki harus mencari posisi menyeberang yang aman. Pejalan kaki tidak dibolehkan menyeberang sembarangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jauh tidaknya JPO itu relatif. Namun yang perlu dilakukan, harus di-review posisi JPO yang ada sekarang ini demi keselamatan pengguna jalan," imbuh dia.

Ketika seseorang menyeberang tidak pada tempatnya maka jadi ada risiko tertabrak. Hal ini harus dipahami oleh semua pemakai jalan. Ketika tabrakan terjadi antara pejalan kaki dengan kendaraan, belum tentu itu kesalahan murni kendaraan yang menabrak.

"Namanya juga busway, yang lewat di situ ya seharusnya hanya bus TransJakarta. Seharusnya tidak ada kendaraan lain yang melintas di situ dan tidak ada orang yang menyeberangi jalur itu," sambung staf pengajar di UI ini.

Terkadang pejalan kaki enggan menggunakan JPO lantaran jarak antar JPO yang terlalu jauh. Selain itu, kadang orang malas karena merasa JPO terlalu tinggi sehingga mereka nekat menyeberang jalan tanpa menggunakan JPO.

"Untuk pembangunan JPO sebenarnya ada perhitungannya jarak yang layak. Harus dipikirkan juga penyeberang jalan yang enggan menggunakan jembatan penyeberangan. Harus tahu masalahnya apa, apakah karena tidak aman atau apa sehingga bisa diperbaiki," tutur Ellen.

Dengan mereview JPO maka akan diketahui apakah sudah cukup penyedian JPO yang ada. Demi keamanan dan kenyamanan, JPO perlu diberi lampu penerangan yang layak. Sebaiknya JPO juga steril dari pengemis dan pedagang kaki lima. Yang tidak kalah penting, JPO harus aman dari tindak kriminal.

"Perlu mulai dipikirkan dan dipertimbangkan juga JPO yang lewat lorong bawah tanah. Ini karena orang-orang malas naik ke jembatan penyeberangan. Kalau turun dulu baru naik, tentu akan lebih mudah," sarannya.

Memang pembuatan penyeberangan orang di bawah tanah membutuhkan biaya yang mahal. Namun untuk tempat-tempat tertentu yang padat, hal itu sudah mulai dilakukan sejak sekarang.

"Untuk keselamatan di jalan, penyeberang jalan harus hati-hati juga. Sebenarnya kasihan juga pramudi, kami pernah melakukan studi, ternyata pramudi yang habis menabrak dipecat. Siapa sih yang mau menabrak orang. Karena itu semuanya harus hati-hati," tambah Ellen.

Pada Rabu siang ini, M Rizki tertabrak bus TransJ Koridor VI (Dukuh Atas-Ragunan) di sekitar Pasar Mampang Jakarta Selatan. Akibatnya,bocah kelas IV SD itu tewas saat dibawa ke RS. Menurut keterangan kondektur bus, Rizki menyelonong menyeberangi busway dengan tiba-tiba sehingga bus TransJ tidak bisa menghindar. Karena kecelakaan itu, warga memblokir jalur TransJ dengan memasang pot bunga ukuran besar di tengah busway. Operasi Koridor VI pun dihentikan untuk sementara.

(vit/nrl)


Berita Terkait