Kodim Semarang Usir Pendemo dengan Lagu Mars Militer
Kamis, 13 Mei 2004 14:41 WIB
Semarang - Puluhan aktivis yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Tolak Militerisme (PRTM) mendemo Kodim 07733 BS Semarang, Jl. Pemuda, Kamis (13/5/2004). Setelah 15 menit berorasi di depan gerbang, mereka pergi karena pihak Kodim menyetel lagu mars militer keras-keras.Massa PRTM tiba di Kodim sekitar pukul 12.30 WIB. Sebelumnya, mereka telah menyisir Kawasan Pasar Johar dan Mal Sri Ratu, Jl. Pemuda. Di dua tempat tersebut, mereka berorasi sambil membagi-bagikan selebaran yang berjudul "Menolak Kembalinya Neo Orba dan Militerisme."Ketika tiba di Kodim, beberapa petugas segera menutup pintu gerbang. Massa PRTM akhirnya hanya berorasi tepat di pintu tersebut. Setelah 15 menit berteriak-teriak lawan militerisme tiba-tiba saja terdengar lagu mars militer. Pada awalnya, suaranya tak begitu keras, tapi beberapa menit kemudian suaranya kian keras hingga suara orasi peserta aksi seperti tenggelam.Mendapat perlawanan suara, beberapa peserta aksi pun menambah volume suaranya. Tapi, suara mereka tetap kalah keras. Karena merasa suaranya kalah keras, mereka pun meninggalkan Kodim sambil membawa bendera-bendera berinisial LMND, BEM Unisulla, BEM USM, dan BEM Unika. Mereka mengakhiri aksinya di Kawasan Tugu Muda sekitar pukul 13.15 WIB. Dalam orasinya mereka menuding kembalinya kekuatan Orba pada pilpres 5 Juli mendatang. "Tidak itu saja, capres militer harus enyah karena mereka sangat membahayakan demokrasi yang telah dibangun dengan darah, keringat, dan cucuran air mata," teriak salah satu orator Bagas A.Aksi dengan isu serupa juga dilakukan oleh GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia) Jateng. Mereka memulai aksinya di Kawasan Bundaran Air Mancur menuju Polda Jateng, Jl. Pahlawan. Di Bundaran Air Mancur, ratusan massa GMNI tersebut sempat membuat happening art tentang kekerasan terhadap mahasiswa.Beberapa orang tanpa pakaian memperagakan bagaimana perlakukan aparat keamanan pada kasus Semanggi, Trisakti, dan UMI. Tubuh mereka dilumuri cat merah, sehingga terkesan ada luka ketika simbol aparat keamanan menangani mahasiswa.Massa mahasiswa yang dekat dengan kalangan nasionalis tersebut berasal dari empat kota, yakni Semarang, Solo, Magelang, dan Salatiga. Dalam posternya mereka menuliskan, "Cegah Junta Militer", "Capres Militer = Lawan!", "Biar Sejarah Yang Bicara.""Kita harus waspada munculnya rezim militeristik karena hal itu bisa menghalangi terbentuknya pemerintahan sipil. Supremasi sipil adalah satu prasyarat demokrasi," kata Korlap Aksi S.Y Laksana.Sekitar pukul 12.30 WIB, setelah berorasi dan membacakan pernyataan sikap di Mapolda Jateng, massa GMNI mengakhiri aksinya. Mereka meninggalkan Mapolda dengan kawalan beberapa polisi saja. Lalu lintas tak banyak terganggu.
(nrl/)











































