PAN: Rusuh Temanggung dan Cikeusik Bukan Ukuran Kegagalan Polri

Penyerangan Ahmadiyah

PAN: Rusuh Temanggung dan Cikeusik Bukan Ukuran Kegagalan Polri

- detikNews
Selasa, 08 Feb 2011 20:55 WIB
Jakarta - Wakil Ketua Komisi III DPR dari FPAN Tjatur Sapto Edi menilai kerusuhan berlatar belakang agama di Cikeusik dan Temanggung bukanlah tolak ukur kegagalan Timur Pradopo selaku Kapolri. Ia hanya menuturkan bahwa kelemahan ada pada bagian intelijen dan hal tersebut yang perlu diperkuat kembali.

"Polisi ini sekarang lemah di intelejen dan harus diaktifkan kembali dalam rangka pengamanan. Kedepan perlu penataan dan penguatan," kata Politisi PAN ini kepada wartawan, di gedung DPR, Senayan, Selasa (8/2/2011).

Ia memaklumi kinerja Kapolri mengingat segala program yang Kapolri laksanakan masih merupakan program lama sehingga wajar bila ada kelemahan. Tjatur sendiri berharap kinerja polisi sama saat orde baru dulu namun lebih pada pencegahannya bukan pada penekanannya.Β 

"Saya sih harapannya polisi itu sama seperti orde baru, tegas, meski bukan pada penekanannya tapi lebih pada pencegahannya," imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kerusuhan pecah di Temanggung, Jawa Tengah. Setidaknya dua buah gereja dibakar dan beberapa mobil juga hangus.

Kejadian itu bermula dari adanya putusan Pengadilan Negeri Temanggung yang memvonis salah satu terdakwa penistaan agama bernama A Richmond Bawengan (58) selama 5 tahun penjara. Vonis dinilai terlalu rendah.

Sementara itu, pada kasus penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, tiga jemaat tewas. Seperti diutarakan dari pihak Ahmadiyah mereka yang tewas yaitu Mulyadi, Tarno dan Roni. Mulyadi adalah warga setempat atau tuan rumah, sedangkan Roni adalah jemaat yang datang dari Jakarta.

Berdasarkan data dari Mabes Polri, ada enam jemaat yang mengalami luka berat. Mereka menderita antara lain bacok di kepala, patah tangan, luka bacok di punggung, dan pendarahan di mulut dan hidung. Korban tewas dan luka berada di RS Malingping.

(feb/van)


Berita Terkait