Batal Bakar Baju Polri, Massa Rantai Pintu Mapolda Jateng
Selasa, 11 Mei 2004 14:56 WIB
Semarang - Karena tak diperbolehkan Kapolres Semarang Selatan AKBP Muhari, puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Persatuan Rakyat Tolak Militerisme gagal membakar pakaian polisi. Massa yang menolak capres militer itu hanya bisa merantai pintu pagar Mapolda Jateng.Aksi yang diikuti oleh FNPBI, BEM Unisula, USM, LMND, dan PMII itu mengambil start di kampus Undip Semarang, Jl. Imam Bardjo, Selasa (11/05/2004). Dari sana mereka menuju Bundaran Air Mancur, Jl. Pahlawan. Mereka membawa satu mobil bak terbuka lengkap dengan sound system-nya.Di kawasan yang biasa digunakan tempat aksi mahasiswa dan warga Semarang itu, mereka berorasi sambil membentangkan poster-poster bertuliskan "Tolak militerisme", "Capres militer, No way", dan "Hentikan kekerasan sekarang juga!".Dalam orasinya, puluhan mahasiswa itu lebih banyak mengecam aksi kekerasan terhadap mahasiswa seperti tragedi Semanggi, Trisakti, dan terakhir di kampus UMI Makassar. "Kepolisian telah menunjukkan sikap premanisme yang menyebabkan terlukanya mahasiswa, fisik dan pikirannya," kata seorang orator.Setelah beberapa menit berorasi sambil membagi-bagikan selebaran ke pengendara jalan, mereka segera menuju Mapolda Jateng yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi aksi. Beberapa polisi mengawal dan mengatur lalu lintas sepanjang perjalanan.Di Mapolda, mereka segera disambut puluhan aparat kepolisian yang sudah tahu rencana mahasiswa membakar pakaian polisi tersebut. Aparat kepolisian kelihatan tenang sekali menghadapi cercaan mahasiswa. Mereka hanya berdiri di sekitar pagar pintu depan Mapolda.Tapi begitu mahasiswa hendak membakar pakaian polisi yang digantungkan di pagar, Kapolres Semarang Selatan AKBP Muhari langsung mengingatkan mahasiswa. Muhari mendatangi orator dan mengatakan bahwa tindakan membakar pakaian polisi termasuk pelanggaran hukum.Salah satu orator yang kemudian diketahui sebagai Presiden BEM Unisula Semarang M. Idham Djanawir akhirnya tak berani memerintahkan massa aksi untuk membakar ban. "Karena membakar pakaian polisi itu membakar hukum, maka kita akan rantai saja pintu ini sebagai simbol tertutupnya nama capres militer dari kancah politik kita," katanya.Setelah dirantai dengan iringan tepuk tangan dan teriakan, para mahasiswa bergegas meninggalkan Mapolda sekitar pukul 12.30 WIB. Selang beberapa menit kemudian, dua orang mahasiswa melepas rantai tersebut sambil mengatakan pada polisi bahwa hal tersebut cuma simbol. Dan, polisi pun hanya tertawa.
(asy/)











































