Andi Mallarangeng Kembali Jadi Pengamat Politik
Selasa, 11 Mei 2004 13:46 WIB
Jakarta - Andi Alfian Mallarangeng akan kembali menjadi pengamat politik dan menekuni dunia akademi setelah mundur dari Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK).Andi mengatakan hal itu dalam jumpa pers di Hotel Mandarin Oriental, Jl.Imam Bonjol, Jakpus, Selasa (11/5/2004). Jumpa pers ini guna mengumumkan secara resmi kemundurannya dari partai yang dipimpin Ryaas Rasyid tersebut."Saya akan kembali ke kampus untuk mengajar, menulis dan memberikan ceramah-caramah. Saya akan kembali ke dunia intelektual," papar pria ganteng ini.Andi mengakui selama ini dia banyak mendapat tawaran dari parpol dan capres tertentu untuk bergabung. "Memang ada banyak tawaran dari partai politik dan capres-capres untuk bergabung. Misalnya Amien Rais, SBY, dll. Tapi saya mengaku memilih abstain," tandasnya.Andi juga menyangkal rumor adanya tawaran untuk menjadi mendagri dalam Kabinet Amien Rais.KecewaLebih lanjut Andi memaparkan, dia mundur dari PDK karena kecewa dengan keputusan rapimnas PDK pada 10 Mei 2004 yang telah memutuskan secara resmi mendukung Wiranto."Saya menghargai hak kolega dan sahabat di PDK. Walau saya keberatan, sekarang saya harus memilih, saya harus mendengarkan suara hati. Bagi saya pribadi, Jenderal Wiranto adalah bagian dari masa lalu Indonesia," urai Andi yang didampingi sang adik, Rizal Mallarangeng, sejumlah peneliti dari CSIS dan sejumlah temannya."Kita harus berpikir ke depan dan mencari serta mendukung pemimpin yang mampu menjawab tantangan masa depan. Bukan seorang pemimpin yang akan terlalu banyak disibukkan untuk memberi justifikasi pada masa lalu yang kelam. Nurani saya selalu mencari solusi. Bukan menciptakan persoalan bagi negeri ini," papar Andi.Dia menjelaskan, keputusan rapimnas yang mendukung Wiranto adalah keputusan partai politik yang sah. Tapi dia sangat kecewa dan tidak cocok dengan keputusan rapimnas."PDK adalah partai modern yang harus melihat masa depan dan menciptakan hal yang baru, bukan malah mendukung orang-orang yang di masa lalunya kelam," demikian Andi Mallarangeng.
(nrl/)











































