Transkrip Dialog Polisi dengan Jamaah Ahmadiyah Sebelum Tragedi Cikeusik

Transkrip Dialog Polisi dengan Jamaah Ahmadiyah Sebelum Tragedi Cikeusik

- detikNews
Selasa, 08 Feb 2011 15:47 WIB
Jakarta - Tragedi berdarah di Cikeusik telah memunculkan berbagai macam spekulasi penyebab sebenarnya kejadian yang menelan korban 3 tewas itu. Baik pihak penyerang maupun Ahmadiyah saling menganggap dirinya lah benar dalam persepsinya masing-masing.

Ada pihak yang menuding polisi lalai karena tidak mau melindungi jamaah Ahmadiyah yang kala itu jumlahnya kalah jauh dari lawannya. Namun sebuah rekaman yang diberikan oleh Jamaah Ahmadiyah ke YLBHI untuk keperluan hukum menunjukkan ada dialog antara polisi dengan jamaah Ahmadiyah di rumah anggota jamaah Ahmadiyah, Suparman, di  Cikeusik.

Berikut transkrip dialog yang diambil dari beberapa klip video tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polisi:

Intinya kita hanya mengantisipasi, karena gosipnya ada beberapa rombongan mau mampir ke sini, tapi kita mengantisipasi. Sekalipun, saran bagi saya mudah-mudahan tidak terjadi. Kita mengharapkan ada istilahnya kita tidak ada korban jiwa.

Ahmadiyah:

Pak Suparman di mana sekarang mas?

Polisi:

Pak Suparman masih di polres sama istrinya. 

Ahmadiyah:

Saya kebetulan ketua Kamnas Ahmadiyah ingin meninjau lokasi masjid yang katanya saya dengar sedang diproses pemda, isu rumah ini mau diobrak-abrik oleh sekelompok orang yang ingin merusak tatanan negara, organisasi berkedok agama yang tidak jelas maksudnya apa, kalau Ahmadiyah sih bapak boleh liat kapan kita pernah bikin ribut ya, tapi bapak boleh lihat ulah mereka bagaimana mereka teriak Allah Akbar tapi nimpuk, bakar.

Polisi:

Jadi berbicara Allah tapi tetap anarkis ya?

Ahmadiyah:

Jadi kedatangan saya ke sini sebagai ketua keamanan nasional ingin melihat kondisi cabang kami. Karena cabang kami di sini memberitahukan bahawa sudah dizalimi dan ada konspirasi ormas berkedok agama dengan aparat desa setempat. Kenapa sih harus membeci Ahmadiyah? Apa sih salahnya? Kalau tidak suka bilang tidak suka, jangan membakar mengusik, memaki, menimpuk, melempar, ini negara hukum bukan negara apa.

Marilah kita tegakkan hukum sama-sama, kan sudah ada SKB 3 menteri silakan baca. Keadaan masalah agama itu keputusan pemerintah pusat bukan pemerintah daerah. Kayak lurah ikut-ikut, Muspika ikut-ikut, Nggak boleh donk. Ibaratnya, Pak Parman mau diterkam harimau jangan Pak Parmannya yang ditembak, (tapi) harimaunya yang diusir.

Polisi:

Kalau berbicara Muspika, saya itu sejak awal sejak ada pengajian hari minggu saya itu menghalau bahkan mereka itu seolah mau menyerang ke sini bersama pak sekman. Bahkan dari hari itu dari GMC (gerakan Muslim Cikeusik) mendoktrin, mengarahkan, seolah-olah memberi target kepada muspika bahwa 1 minggu harus bubar. Tidak bisa begitu, kata kami. Kita rapat dengan pihak Pak Parman, rapat dengan pihak desa sampai dengan kecamatan berulang kali, sampai 4 kali sampai mengundang muspida, sampai muspida juga turun juga ke sini. Jadi kita tidak memihak bahwa kita pro Ahmadiyah atau pro GMC. Kita mah hanya Kamtibmas, kita sebagai polisi ya. Jangan seolah-olah dengan adanya begini ada pertumpahan ada perbuatan anarkis. Kita mengantisipasi, kita mengarahkan. Intinya GMC itu setahu saya tolonglah berbaur dengan bagus. Yang mencolok waktu keluarga Pak Suparman tidak mau sembahyang di masjid hari jumat, itu aja yang mencolok. Kalau di luar hari jumat silakan-silakan saja, cuma itu saja.

Ahmadiyah:

Gini Pak, kalau kita bicara akidah, Islam itu kan sudah jelas, sudah berapa puluh golongan di dunia ini. kalau kita bicara akidah marilah kita dialog, masalah multi tafsir itu kan saling berbeda kaya syiah sama sunni yang saling bom-boman masjid. Kita juga kan sedih, sesama Islam masjid dibom. Besoknya masjid dibom, malu kan kita, masakan Indonesia mau seperti itu.

Polisi:

Yang ditumpanginya kan orang yang tidak bertanggungjawab, apalagi zaman-zaman sesat

Ahmadiyah:

Terima kasih sekali kalau ini sudah jelas Bapak bisa berdiri di semua golongan yang ada saya terima kasih sekali. Karena kalau memang tidak cocok jangan anarkis. Capek lah kita kalau anarkis, Bapak juga capek.

Polisi:

Saya selama ini Nggak mau ada masalah

Ahmadiyah:

Sudah ada jembatannya, mau jalur apa ayo, jalur hukum ayo, kita kan organisasi jelas juga Pak. Di departemen kehakiman kita sudah terdaftar sejak tahun '59, terus kita ini organisasi sudah mendunia, jangan hanya sekelompok orang hanya gara-gara beda tafsir sedikit bakar, timpuk, bunuh, serem. Kadang-kadang kan di mata Allah kita tidak tahu mana yang paling bener. Saya paling ini, saya paling ini.

Ahmadiyah:

Tadi sudah perlu diketahui rekan-rekan kedatangan kami ke sini ingin meninjau bukan untuk melakukan pembalasan dendam. Tapi kalau kita diserang, massa dipukulin kita diem aja, tidak mungkin Pak.

Ahmadiyah:

Masak saya dipukuli, mobil saya dihancurin, saya diam aja? Nggak mungkin juga. Jadi alhamdulillah kalau Bapak bisa berdiri di atas golongan, Bapak bisa menghalau mereka terima kasih sekali mudah-mudahan mereka tidak datang.

Ahmadiyah:

Kalau bapak tidak mampu, lepaskan saja bentrokan saja pak, bentrokan saja, kami siap pak biar seru, habis gimana masa mau diem aja.

Polisi:

Saya sangat tidak mengharapkan itu.

Ahmadiyah:

Justru itu, kalau misalkan bapak bilang kepolisian tidak sanggup lepasin ajalah. Lepasin aja, biar banjir darah, seru ya kan Pak, habis bagaimana?

Polisi:

Saya tidak mengharapkan itu lah (gah/asy)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait