"Kalau masalah kurang kepemimpinan, itu bisa diasumsikan demikian," kata Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh, dalam perbincangan dengan detikcom di kantornya, Jl HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta, Senin (7/2/2011).
Menurut Farazandeh, Revolusi Iran berbeda dengan Mesir atau Tunisia. Yang membuat revolusi Iran unik adalah peran Imam Ayatullah Ali Khumaini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adanya figur kharismatis membuat kedua pihak yang berhadapan, yaitu rakyat dan pemerintah saat itu tidak sampai berdarah-darah. Pihak militer pun respek dengan Khumaini.
"Militer menganggap Khumaini sebagai pimpinan tertinggi," jelas Farazandeh.
Lantas Khumaini menunjuk seorang Perdana Menteri untuk membentuk pemerintahan baru. Revolusi pun terjadi dengan damai.
"Tidak ada pertumpahan darah, dan setelah Revolusi Iran, belum ada lagi revolusi seperti ini," kata dia.
(fay/mok)











































