RI Harus Kuatkan Budaya Riset Agar Tak Tergerus Arus Globalisasi

RI Harus Kuatkan Budaya Riset Agar Tak Tergerus Arus Globalisasi

- detikNews
Selasa, 08 Feb 2011 00:20 WIB
Jakarta - Indonesia perlu memperkuat budaya riset dan tidak selalu mengekor hasil riset pihak asing. Apalagi banyak komoditas asli Indonesia yang hanya berkutat di pasar lokal akibat sering diopinikan tak sehat atas dasar riset tersebut.

"Karena kita tidak punya budaya riset, maka kita tidak mampu membuat arus, sebaliknya malah dilanda arus," kata Gusu Besar Biologi Sel dan Molekuler Program Pasca Sarjana Biomedik, Universitas Brawijaya, Prof Dr Sutiman B Sumitro kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/2/2011).

Padahal, lanjut Sutiman, bila dilakukan riset sendiri belum tentu hasilnya sama dengan opini negatif yang dikembangkan atau setidaknya bisa mencari solusi untuk mengubah suatu komoditas agar bisa lebih diterima. contohnya, komoditas rokok kretek yang merupakan komoditas asli Indonesia yang selain memiliki nilai ekonomi tinggi juga potensial diangkat jadi salah satu ikon budaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Industri rokok kretek tidak gampang goyah, tetapi digempur sebagai produk tak sehat, padahal tidak ada riset tentang kretek. Kretek beda dengan rokok putih (tanpa campuran cengkeh, Red)," jelasnya.

Sutiman mengatakan, dengan pendekatan nano biologi, asap rokok kretek yang mengandung kadar racun bisa dimodifikasi menjadi asap yang menyehatkan bagi manusia serta menyuburkan dan meningkatkan kualitas tanaman pangan. Penggunaan asap tembakau dan cengkeh untuk pengobatan sudah pernah dilakukan secara tradisional, juga oleh kalangan dokter di Eropa pada abad pertengahan.

Sutiman juga menjelaskan, prototipe perlakuan terhadap rokok kretek menggunakan pendekatan nano biology yang dinamakan divine cigarette sudah dirintis dan dikembangkan di Unibraw dan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Jawa Timur.

"Riset ini kita biaya sendiri bersama Unibraw dan pihak-pihak lain secara pribadi, bukan dari industri rokok," ungkap Sutiman yang meraih gelar doktor di Bidang Biologi Sel di Sekolah Biologi Universitas Nagoya, Jepang.

(zal/mok)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads