"Karena kita tidak punya budaya riset, maka kita tidak mampu membuat arus, sebaliknya malah dilanda arus," kata Gusu Besar Biologi Sel dan Molekuler Program Pasca Sarjana Biomedik, Universitas Brawijaya, Prof Dr Sutiman B Sumitro kepada wartawan di Jakarta, Senin (7/2/2011).
Padahal, lanjut Sutiman, bila dilakukan riset sendiri belum tentu hasilnya sama dengan opini negatif yang dikembangkan atau setidaknya bisa mencari solusi untuk mengubah suatu komoditas agar bisa lebih diterima. contohnya, komoditas rokok kretek yang merupakan komoditas asli Indonesia yang selain memiliki nilai ekonomi tinggi juga potensial diangkat jadi salah satu ikon budaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutiman mengatakan, dengan pendekatan nano biologi, asap rokok kretek yang mengandung kadar racun bisa dimodifikasi menjadi asap yang menyehatkan bagi manusia serta menyuburkan dan meningkatkan kualitas tanaman pangan. Penggunaan asap tembakau dan cengkeh untuk pengobatan sudah pernah dilakukan secara tradisional, juga oleh kalangan dokter di Eropa pada abad pertengahan.
Sutiman juga menjelaskan, prototipe perlakuan terhadap rokok kretek menggunakan pendekatan nano biology yang dinamakan divine cigarette sudah dirintis dan dikembangkan di Unibraw dan Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Jawa Timur.
"Riset ini kita biaya sendiri bersama Unibraw dan pihak-pihak lain secara pribadi, bukan dari industri rokok," ungkap Sutiman yang meraih gelar doktor di Bidang Biologi Sel di Sekolah Biologi Universitas Nagoya, Jepang.
(zal/mok)











































