"Pengumumannya nanti malam pukul 24.00. Kalau sampai akhirnya dieliminasi, kita siap menuntut melalui lawyer yang sudah kita tunjuk, yaitu Pak Todung (Todung Mulya Lubis)," kata Menbudpar Jero Wacik dalam jumpa pers di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (7/2/1011).
Wacik menyayangkan alasan dieliminasi Pulau Komodo hanya karena ketidaksiapan Indonesia menjadi tuan rumah final New7Wonders yang akan digelar pada 11 November 2011. Seharusnya, jika Indonesia menolak tawaran itu, yayasan yang bermarkas di Swiss itu dapat menawarkan ke 27 negara lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah kejadian itu, saya belum melakukan komunikasi dengan menteri yang lain (di negara kandidat tuan rumah), apakah hal yang sama ini juga terjadi pada mereka? Yang jelas, kita belum pernah menandatangani kontrak yang menunjukkan bahwa kita akan menjadi tuan rumah. Kita masih pikir-pikir dulu saat itu," katanya.
Kemenbudpar, lanjut menteri asal Partai Demokrat ini, siap memperjuangkan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu obyek wisata yang dikenal dunia meski gagal masuk New7Wonders. Malah, menurutnya, persoalan sekarang ini justru menjadikan Taman Nasional Komodo lebih dikenal oleh banyak orang.
"Saya tersinggung, rasa kebangsaan saya diinjak. Saya tidak mau digituin oleh LSM. Ini membuat saya curiga dengan LSM ini. Kalau sampai nanti malam di-deleted, saya akan tuntut dia, karena banyak voter yang memilih ini (Komodo). Dan saya tidak mau Komodo dihapus," imbuhnya.
Wacik kembali menegaskan, permintaan menjadi tuan rumah New7Wonders bukan permintaan Indonesia. Kemenbudpar tidak mungkin melakukan hal yang ceroboh tanpa pemikiran yang matang.
Wacik mengaku presiden tidak perlu turun tangan dalam persoalan ini. Karena dirinya saja sudah cukup untuk menghadapi yayasan New7Wonder.
"Presiden nggak perlu turun tangan, saya sendiri kuatlah. Yang penting semuanya mendukung dan ada di belakang saya, dan mari kita selamatkan Taman Nasional Komodo," tutupnya.
Versi dari Yayasan New7Wonders bertolak belakang dengan pemerintah Indonesia. Yayasan ini menuding Kemenbudpar wanprestasi atas aspek legal formal yang harus disiapkan menjelang malam penganugerahan New7Wonder. Respons Kemenbudpar yang lamban dan diskusi yang tidak produktif telah melelahkan Yayasan New7Wonders.
Presiden Yayasan New7Wonders Bernard Weber menjamin, asalkan semua permasalahan ini bisa diatasi, pencopotan Komodo dari nominasi akan dibatalkan. Ia memberi waktu sampai tanggal 7 Februari, yang jatuh pada hari ini. Komodo pun bisa tetap menjadi finalis menuju puncak penghargaan di mana akan dipilih 7 keajaiban alam terbaik di planet Bumi.
(lia/irw)










































