PM Blair Minta Maaf atas Skandal Penyiksaan di Irak
Senin, 10 Mei 2004 13:45 WIB
Jakarta - Perdana Menteri (PM) Tony Blair meminta maaf atas penganiayaan yang dilakukan tentara-tentara Inggris di Irak. Blair menegaskan bahwa mereka yang bersalah akan dihukum."Kami meminta maaf secara mendalam kepada siapa saja yang telah diperlakukan sewenang-wenang oleh prajurit kami," tukas Blair pada televisi Perancis saat lawatan ke ibukota Paris, seperti dilansir kantor berita Associated Press, Senin (10/5/2004)."Ini benar-benar dan sepenuhnya tidak bisa diterima. Mereka yang bertanggung jawab atas ini, jika mereka telah bertindak dalam cara yang menakutkan ini, mereka akan dihukum sesuai dengan disiplin dan aturan tentara," tegas Blair.Sebelumnya kelompok HAM ternama Amnesty International mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberitahukan pejabat-pejabat pemerintah Inggris mengenai laporan kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan tentara Inggris sejak tahun lalu.Amnesty mengaku telah mengingatkan pemerintah Inggris pada Mei 2003 lalu bahwa para tahanan Irak telah disiksa, dan setidaknya satu orang tewas dalam tahanan Inggris. Amnesty telah mengadakan serangkaian pertemuan dengan pejabat-pejabat kementerian Pertahanan dan Kantor Luar Negeri untuk membahas skandal penyiksaan ini."Mereka bialng mereka akan memeriksanya dan datang kembali ke kami," tukas juru bicara Amnesty untuk Timur Tengah, Nicole Choueiry. "Namun sejak itu, mereka tidak kembali menemui kami," imbuhnya.Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan tidak bisa memastikan kapan pertama kali pihaknya diberi tahu soal skandal ini. Namun seorang juru bicara menuturkan kementerian telah menyelidiki kasus-kasus penganiayaan ini sejak tahun lalu. Sebanyak 33 kasus saat ini masih terus diselidiki Inggris.
(ita/)











































