"Itu silaturahmi saja," kata Humas Ahmadiyah, Mubarik saat dihubungi, Senin (7/2/2011).
Jadi, lanjut Mubarik, pihaknya tidak menyebarkan keyakinan kepada penduduk sekitar. "Kan kita dituduh eksklusif, masa menyebarkan. Kita jadi heran," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam insiden di Cikeusik, Minggu (6/2) yang menewaskan 3 jemaat Ahmadiyah itu, mereka mengaku dalam posisi bertahan dan membela diri. "Kita minta hukum ditegakkan," terangnya.
Lebih lanjut, dia menolak kalau Ahmadiyah dinilai berbeda dengan ajaran Islam. Menurut Mubarik, perbedaannya hanya pada soal Nabi Isa.
"Ahmadiyah mengaku Nabi Isa sudah turun dan ada tanda-tandanya. Ya Mirza Ghulam (pemimpin spiritual Ahmadiyah) itu Nabi Isa itu, konteksnya demikian," terangnya.
Pengikut Ahmadiyah juga menolak mendeklarasikan diri berbeda dengan agama Islam. "Itu hal yang lucu, ibaratnya saya laki-laki disuruh deklarasikan saya perempuan," terangnya.
Selain itu, dia berharap agar kasus penyerangan tidak kembali terulang, pihak kepolisian diminta tegas. Jangan sampai melakukan pembiaran dan malah mengambil tindakan yang membuat pengikut Ahmadiyah dirugikan.
"Ini konteksnya kami warga negara Indonesia. Hukum harus ditegakkan," tutupnya.
(ndr/asy)











































