"Deteksi awal intelijen sangat lemah, ya ini sumber permasalahannya dalam insiden tersebut," ujar pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar pada detikcom, Senin (7/1/2011) pagi.
Menurut Bambang, seharusnya kepolisian mampu membaca dari awal dan mengamati secara detil pergerakan massa. Seharusnya, intelijen kepolisian harus mengawasi terus suatu area yang dari awal terindikasi rawan terjadi konflik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kesalahan awal intelijen ini, lanjut Bambang, merembet ke tahap selanjutnya. "Polisi kan jadi tidak bisa menghitung kekuatan personel yang seharusnya dikerahkan ke lokasi," cetusnya.
Kapolri Jenderal Timur Pradopo sebelumnya mengakui pihaknya sudah melakukan antisipasi pergerakan massa pada insiden Ahmadiyah ini, namun polisi tetap saja kecolongan.
Timur mengatakan, kepolisian telah membaca ada pergerakan massa Ahmadiyah di Cikeusik sejak Kamis (4/1/2011) lalu. Kegiatan massa, yang tidak disebut secara spesifik oleh Timur, tersebut dipimpin oleh pimpinan Ahmadiyah Cikeusik, Ismail Suparman.
"Karena masyarakat tidak menerima, kami jemput Ismail Suparman untuk dilindungi Polres setempat," papar Timur dalam konferensi pers di kantor Kemenko Polhukam, Jl Medan Merdeka Barat, Minggu (6/1/2011) malam.
Namun langkah yang diambil kepolisian tersebut, lanjut Timur, belakangan disadari tidak sepeunuhnya efektif untuk meredakan konflik yang ada. Pasalnya pada Minggu pagi tadi, ada pergerakan massa Ahmadiyah dari Bekasi, yang tidak dapat dideteksi oleh kepolisian.
Rombongan dari Bekasi tersebut berjumlah 15 orang, dan menempati rumah tempat kegiatan Ahmadiyah, yang biasa ditempati oleh Ismael Suparman. Timur mengatakan, kedatangan 15 orang tersebut itulah yang memicu kemarahan warga sekitar kepada kelompok Ahmadiyah.
"Pergerakan dari Bekasi itu mendadak dan tidak kami ketahui. Dipimpin oleh Deden, yang mengatasnakaman dari Ahmadiyah pusat. Mereka mencoba mempertahankan rumah yang biasa digunakan untuk kegiatan Ahmadiyah," ujar Timur.
(fjr/nrl)










































