Kapolsek Cikeusik AKP Madsupur menyatakan, warga sekitar mengetahui keberadaan kelompok Ahmadiyah di kampung tersebut.
"Tahu, makanya waktu November 2010 lalu, warga sempat mengusir mereka (Ahmadiyah) dari situ," kata Kapolsek Cikeusik AKP Madsupur saat dihubungi wartawan, Minggu (6/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka salat Jumatnya di dalam rumah, itu membuat warga marah. Padahal di Cikeusik sendiri ada masjid," kata dia.
Namun, perselisihan kala itu tidak berbuntut anarkis. Ketegangan antarjamaah dan warga berhasil diredam aparat petugas.
"Nggak sampai bentrok waktu itu," katanya.
Saat itu, pemerintah setempat mengumpulkan tokoh masyarakat Cikeusik dan Ahmadiyah. Konflik tersebut dibawa hingga ke tingkat tinggi.
"Sudah lama kita upayakan musyawarah. Oktober 2010, kita musyawarahkan ke tingkat Bakorpakem," ujar dia.
Puncaknya, warga mulai terusik lagi ketika Ahmadiyah mengundang pengurus Ahmadiyah Jakarta ke kampung tersebut. "Kalau dulu, yang mendatangi kelompok itu hanya warga Cikeusik. Tapi tadi, gabungan dari beberapa kecamatan," katanya.
Jadi, polisi juga sudah tahu keberadaan Ahmadiyah di lokasi? "Iya sudah tahu," katanya.
Namun, saat hendak ditanya apakah intelijen polisi lemah dalam kasus tersebut, Kapolsek memutus pembicaraan. "Sebentar, saya ada panggilan telepon masuk," tutupnya.
Sedangkan Kasat Reskrim Pandeglang AKP Dhani Gumilarย saat dihubungi tidak menjawab. "Mohon ijin bu, ibu hubungi Kapolsek, karena saya masih laporan ke Polda dan Mabes," kata Dhani melalui pesan singkatnya.
Aksi kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah terjadi di Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Cikeusik, Pandeglang, Banten pada Minggu (6/2) siang. Ribuan warga mendatangi kampung tersebut dan melempari rumah jamaah Ahmadiyah.
Dalam peristiwa itu, 3 jemaah Ahmadiyah tewas. Sementara 4 lainnya mengalami luka berat dan tengah dirawat di RS Malimping.
(mei/lrn)











































