Mujahid, berstatus sebagai mahasiswa Al Azhar semester akhir jurusan Syari’at Wa Qonun (Hubungan Internasional) sudah selama dua hari ini tidak ada kabar beritanya kepada kedua orangtuanya. Selain Mujahid, Bambang mempunyai 4 anak yang lain diantaranya kakak Mujahid Atika Purwani Fitriani (25), Fauziah Nurlina (18), Zakiah Nuraini (15) dan Usamah Abdul Hani(12).
“Dua hari ini kami sudah putus kontak hubungan. Terakhir kontak dia bilang; Abi, ini stok makanan tinggal dua hari lagi nggak tahu kemana nanti apakah bisa dapat atau tidak,” tutur Bambang menirukan pernyataan Mujahid lewat ponsel saat kontak terakhir anaknya Rabu (2/2/2011) tepatnya dua hari lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Bambang, mulai dari kontak secara langsung dan akhirnya putus hubungan selama dua hari. Bambang juga berusaha menghubungi teman-teman kuliah anaknya namun sampai sekarang tidak ada kabar keberadaan dan kondisi anaknya di Mesir.
“Upaya saya selalu kontak. Kalau nggak bisa kontak ke teman-teman lain banyak yang lain juga lain begitu. Kalau kontak tidak bisa ya kita tunggu saja bagaimana perkembangan di TV,” ungkap Bambang.
Bambang saat ini hanya bisa pasrah dan berdoa bahkan setiap malam dirinya bersama istri selalu menunaikan salat malam (tahajud) supaya anaknya diberikan keselamatan dan kesehatan walau kondisi Mesir sudah rusuh. “Saya pasrah. Yang jelas mudah-mudahan dulu berangkat dengan kebaikan mencari dengan kebaikan semoga dia bisa pulang kembali ke sini dengan kebaikan. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan kemudahan kepadanya,” jelas Bambang.
Ani Fatimah , ibu Mujahid menceritakan kontak tidak hanya dilakukan kedua orangtuanya saja. Bahkan Kakaknya Atika Purwani Fitriati (25) juga berusaha menghubungi Mujahid begitu Mesir bergolak.
Awal kontak pada 31 Januari lalu Mujahid mengabarkan bahwa Kota Mesir mulai bergejolak dan terjadi kerusuhan setelah Muzir (Direktur) Al–Azhar Kairo di pecat oleh pemerintah Mesir. “Kemudian pada tanggal 1 Februari kakaknya kontak Alhamdulillah masih bisa. Sorenya abi (ayah) kontak bisa. Tanggal 2 Februari kontak lagi bisa tapi terus langsung putus,” tegas Fatimah yang bekerja sebagai guru di PAUD IT Aisyah Syafa’ Kota Magelang dengan haru.
Saat pertama Fatimah telepon, Mujahid menceritakan bahwa di Mesir sudah ada penjarahan. Sama seperti yang diberitakan oleh beberapa stasiun televisi.
Fatimah berharap anaknya disana dalam kondisi aman dan sehat wal afiat. Begitu juga dengan teman-temanya dan semua warga negara Indonesia yang disana juga selamat. “Harapanya anak saya di sana selamat. Selamat terus tidak ada apa-apa. Insya Allah mudah mudahan Allah menolong memberikan keselamatan kepada Mujahid dan semua orang Indonesia yang ada disana,” tukas Fatimah.
Mujahid yang berhasil menyandang sebagai mahasiswa di Al Azhar Kairo, Mesir berkat beasiswa yang dia dapat dari Departemen Agama (Depag) setelah bersaing dengan sebanyak 1.400 calon mahasiswa lain.
"Setelah disaring menjadi 45 disana diseleksi kembali menjadi sebanyak 25 dan salah satunya anak saya Mujahid,” tegas Fatimah.
Fatimah berharap, Mujahid yang juga aktivis perdamaian dan membentuk grup Duta Risalah Salam dan Da’i Nada nasyid acapela bernafaskan islam di Mesir untuk melanjutkan kuliah meraih gelar S2 bisa berhasil.
Namun dengan adanya gejolak dan kerusuhan revolusi di Mesir kedua orangtuanya hanya bisa pasrah, selalu berdoa saja untuk keselamatan anaknya sambil sering melihat Mesir melalui televisi.
(ape/ape)











































