2 Hari Putus Kontak, Orang Tua Mahasiswa di Mesir Pasrah

2 Hari Putus Kontak, Orang Tua Mahasiswa di Mesir Pasrah

- detikNews
Jumat, 04 Feb 2011 23:45 WIB
2 Hari Putus Kontak, Orang Tua Mahasiswa di Mesir Pasrah
Jakarta - Perasaan kawatir serta was-was menyelimuti pikiran pasangan Bambang Purnomo (50) dan Ani Fatimah (49) warga Sanggrahan 813, Desa Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Jawa Tengah. Sebabnya, Mujahid Abdul Jabar (22) anaknya yang  kedua dari 5 bersaudara sejak tahun 2007 sampai saat ini sedang menimba ilmu di negara Mesir yang sedang terjadi kerusuhan akibat revolusi nasional.

Mujahid, berstatus sebagai mahasiswa Al Azhar semester akhir jurusan Syari’at Wa Qonun (Hubungan Internasional) sudah selama dua hari ini tidak ada kabar beritanya kepada kedua orangtuanya. Selain Mujahid, Bambang mempunyai 4 anak yang lain diantaranya kakak Mujahid Atika Purwani Fitriani (25), Fauziah Nurlina (18), Zakiah Nuraini (15) dan Usamah Abdul Hani(12).

“Dua hari ini kami sudah putus kontak hubungan. Terakhir kontak dia bilang; Abi, ini stok makanan tinggal dua hari lagi nggak tahu kemana nanti apakah bisa dapat atau tidak,” tutur Bambang menirukan pernyataan Mujahid lewat ponsel saat kontak terakhir anaknya Rabu (2/2/2011) tepatnya dua hari lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mujahid juga sempat berpesan agar ayahnya yang bekerja di perusahaan kontraktor CV Kreasia Kota Magelang agar mengirimi dia uang lewat ATM. “Dia minta kiriman uang, saya juga sempat berpikir kalau kiriman uang apa tidak susah ngambilnya sedang ada kerusuhan. Akhirnya juga sudah saya kirim. Saya kirim lewat ATM, tetapi saya lihat di TV bank-bank tutup ATM dan toko-toko juga tutup. Saya pikir susah itu kalau ngambil uangnya. Saya tidak bayangin kalau sudah dua hari ini komunikasi tidak ada mau bagaimana lagi,” ucap Bambang saat ditemui detikcom didampingi istrinya Ani Fatimah.

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Bambang, mulai dari kontak secara langsung dan akhirnya putus hubungan selama dua hari. Bambang juga berusaha menghubungi teman-teman kuliah anaknya namun sampai sekarang tidak ada kabar keberadaan dan kondisi anaknya di Mesir.

“Upaya saya selalu kontak. Kalau nggak bisa kontak ke teman-teman lain banyak yang lain juga lain begitu. Kalau kontak tidak bisa ya kita tunggu saja bagaimana perkembangan di TV,” ungkap Bambang.
 
Bambang saat ini hanya bisa pasrah dan berdoa bahkan setiap malam dirinya bersama istri selalu menunaikan salat malam (tahajud) supaya anaknya diberikan keselamatan dan kesehatan walau kondisi Mesir sudah rusuh. “Saya pasrah. Yang jelas mudah-mudahan dulu berangkat dengan kebaikan mencari dengan kebaikan semoga dia bisa pulang kembali ke sini dengan kebaikan. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan kemudahan kepadanya,” jelas Bambang. 

Ani Fatimah , ibu Mujahid menceritakan kontak tidak hanya dilakukan kedua orangtuanya saja. Bahkan Kakaknya Atika Purwani Fitriati (25) juga berusaha menghubungi Mujahid begitu Mesir bergolak.

Awal kontak pada 31 Januari lalu Mujahid mengabarkan bahwa Kota Mesir mulai bergejolak dan terjadi kerusuhan setelah Muzir (Direktur) Al–Azhar Kairo di pecat oleh pemerintah Mesir. “Kemudian pada tanggal 1 Februari kakaknya kontak Alhamdulillah masih bisa. Sorenya abi (ayah) kontak bisa. Tanggal 2 Februari kontak lagi bisa tapi terus langsung putus,” tegas Fatimah yang bekerja sebagai guru di PAUD IT Aisyah Syafa’ Kota Magelang dengan haru. 

Saat pertama Fatimah telepon, Mujahid menceritakan bahwa di Mesir sudah ada penjarahan. Sama seperti yang diberitakan oleh beberapa stasiun televisi.

Fatimah berharap anaknya disana dalam kondisi aman dan sehat wal afiat. Begitu juga dengan teman-temanya dan semua warga negara Indonesia yang disana juga selamat. “Harapanya anak saya di sana selamat. Selamat terus tidak ada apa-apa. Insya Allah mudah mudahan Allah menolong memberikan keselamatan kepada Mujahid dan semua orang Indonesia yang ada disana,” tukas Fatimah. 

Mujahid yang berhasil menyandang sebagai mahasiswa di Al Azhar Kairo, Mesir berkat beasiswa yang dia dapat dari Departemen Agama (Depag) setelah bersaing dengan sebanyak 1.400 calon mahasiswa lain.

"Setelah disaring menjadi 45 disana diseleksi kembali menjadi sebanyak 25 dan salah satunya anak saya Mujahid,” tegas Fatimah.

Fatimah berharap, Mujahid yang juga aktivis perdamaian dan membentuk grup Duta Risalah Salam dan Da’i Nada nasyid acapela bernafaskan islam di Mesir untuk melanjutkan kuliah meraih gelar S2 bisa berhasil.

Namun dengan adanya gejolak dan kerusuhan revolusi di Mesir kedua orangtuanya hanya bisa pasrah, selalu berdoa saja untuk keselamatan anaknya sambil sering melihat Mesir melalui televisi.
(ape/ape)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads