Jack, demikian dia biasa disapa, sejatinya seorang pegawai negeri sipil (PNS) di kantor yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) itu. Namun pria dengan golongan IIIA itu ditempatkan sebagai petugas kebersihan.
Berita soal Jack ini sempat heboh di media massa. Dan kini, setelah beritanya menasional, nasib Jack sedikit berubah. Pria tersebut tidak lagi berkutat dengan kain pel dan parit-parit yang ada di sekitar kantornya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jack mengatakan, tidak hanya nasibnya saja yang sedikit berubah. Teman Jack, Diki Simponi, yang juga sarjana dan ditempatkan sebagai petugas kebersihan, juga dipindahkan menjadi petugas perpustakaan.
"Tidak hanya saya, teman saya yang sarjana, Diki Simponi turut terdongkrak dari tukang pel menjadi penjaga perpustakaan," kata Jack Lord tersenyum senang.
Jack Lord kemudian menceritakan, tugasnya sehari-hari saat ini berkutat dengan buku-buku yang ada di perpustakaan tersebut. Jika ada buku-buku baru datang, Jack Lord adalah orang yang bertugas melabeli buku-buku tersebut.
"Sekarang saban pagi saya bertugas di Perpustakaan. Kalau ada buku-buku baru yang masuk di kirim dari Mendiknas di Jakarta, tugas saya membukanya dari kotak. Lantas saya stempelin serta memberikan kode pada buku tersebut," kata pria yang lulus cum laude itu.
Jack dan Diki juga bertugas mencatat siapa saja yang akan meminjam buku di perpustakaan tersebut. Hari-hari mereka kini memang tidak lagi harus menguras tenaga untuk membersihkan ruangan.
Sebelumnya, selama bertahun-tahun, Jack ditugaskan menjadi tukang pel lantai. Padahal dia jebolan UNRI ini sudah naik pangkat menjadi golongan III A. Tapi pihak kantornya tetap menempatkan dirinya bersama sarjana lainnya menjadi tukang pel.
Padahal di kantor LPMP Riau itu, banyak PNS yang hanya jebolan SMU sederajat menjadi menjadi staf di kantor mereka. Tindakan LPMP Riau ini sempat menjadi perhatian publik atas penempatan Golongan III A menjadi tukang pel lantai.
(cha/ken)










































